Wall Street Variatif, Nasdaq Tertekan Kekhawatiran Belanja AI

Sabtu, 25 Juli 2026 | 20:43:20 WIB
Ilustrasi wall street (sumber foto : NET)

JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) ditutup bervariasi pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi terkoreksi akibat aksi lepas saham semikonduktor di tengah kekhawatiran tingginya belanja modal untuk kecerdasan buatan (AI).

Penurunan harga minyak mentah memberikan sentimen positif, meski ketegangan geopolitik Timur Tengah masih berlangsung. Indeks S&P 500 naik tipis dengan tekanan terbesar dari indeks teknologi S&P 500 yang turun 0,88%.

Pelaku pasar kini menantikan laporan keuangan Microsoft, Amazon, Meta, dan Apple pekan depan. Optimisme memudar setelah lonjakan belanja modal Alphabet memicu keraguan investor atas imbal hasil investasi AI.

"Investor mulai bertanya-tanya, bagaimana kami harus memahami semua pengeluaran ini, dan berapa lama lagi kami harus bersabar sebelum benar-benar melihat investasi tersebut menghasilkan keuntungan nyata?" ujar Andersen sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Rasa takut ketinggalan peluang kini mulai berubah menjadi kekhawatiran terhadap pembangunan kapasitas yang terlalu besar," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Intel memproyeksikan laba dan pendapatan kuartalan di atas ekspektasi serta berencana meningkatkan belanja dua tahun ke depan. Meski begitu, saham Intel anjlok 7,9% menyusul penurunan indeks semikonduktor Philadelphia (SOX) sebesar 4,5%.

Pada penutupan perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 235,60 poin atau 0,46% ke level 51.947,25. S&P 500 menguat tipis 3,68 poin atau 0,05% ke 7.411,98, sedangkan Nasdaq Composite melemah 161,87 poin atau 0,64% ke 24.975,82.

Secara mingguan, Dow Jones turun 0,4% dan mencatat penurunan tiga minggu beruntun. S&P 500 melemah 0,6% serta Nasdaq terkoreksi 2%, menandai penurunan dua minggu berturut-turut.

Dari 11 sektor S&P 500, sektor properti memimpin kenaikan sebesar 2,4% yang didorong lonjakan Digital Realty Trust sebesar 11%. Sektor material naik 1,44% melalui penguatan International Paper sebesar 11,2% dan Smurfit Westrock sebesar 11,1%.

Harga minyak mentah turun sekitar 3% akibat aksi ambil untung dan laporan dorongan pembicaraan damai AS-Iran oleh China. Namun, AS tetap meluncurkan serangan rudal ke target di Iran usai janji "hukuman militer besar" dari Presiden Donald Trump.

"Apa pun perkembangan berita terkait konflik saat ini akan menggerakkan harga minyak, dan harga minyak kemudian akan memengaruhi pasar keuangan," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber. Fluktuasi harga minyak dinilai berdampak langsung pada belanja konsumen dan korporasi.

Pemerintahan Presiden Donald Trump menetapkan tarif baru 10% hingga 12,5% terhadap produk dari 60 mitra dagang karena masalah penegakan aturan tenaga kerja paksa. Kebijakan ini diterapkan tepat setelah tarif global sementara sebesar 10% berakhir.

Aktivitas sektor jasa AS meningkat pada Juli berkat belanja masyarakat saat Piala Dunia FIFA dan Hari Kemerdekaan AS. Sebaliknya, aktivitas sektor manufaktur melambat ke laju terendah sejak Maret.

Saham perusahaan jasa ladang minyak SLB melonjak 11% berkat laba kuartal II yang melampaui estimasi. Di NYSE, jumlah saham yang menguat mengungguli yang melemah dengan rasio 1,32 banding 1.

Pada bursa Nasdaq, terdapat 2.174 saham naik dan 2.718 saham turun. S&P 500 mencatat 18 saham menyentuh level tertinggi 52 pekan dan 6 saham di level terendah, sementara Nasdaq membukukan 78 saham di level tertinggi dan 205 saham di level terendah.

Total volume transaksi seluruh bursa AS mencapai 15,03 miliar saham. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata 20 hari perdagangan yang sebesar 18,22 miliar saham.

Terkini