JAKARTA – Indeks utama Wall Street ditutup merosot lebih dari 2% pada akhir perdagangan Kamis (23/7/2026). Penurunan ini dipicu oleh laporan keuangan terbaru dari raksasa teknologi yang memicu kekhawatiran terkait besarnya pengeluaran untuk AI, serta lonjakan harga minyak yang meningkatkan kecemasan inflasi dan mendongkrak imbal hasil obligasi.
Mengutip laporan Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average melorot 506,93 poin atau 0,97% menuju posisi 51.711,65, S&P 500 merosot 90,66 poin atau 1,21% ke level 7.408,30, dan Nasdaq Composite tergerus 553,21 poin atau 2,15% ke posisi 25.137,69.
Volume perdagangan saham di bursa AS mencatatkan angka 16,21 miliar saham, jika dibandingkan dengan rata-rata 18,51 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.
Dari sebelas indeks sektoral utama S&P 500, pergerakannya bervariasi karena hanya empat sektor yang sanggup menguat. Sektor industri mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 1,77% berkat dorongan saham pertahanan seperti Lockheed Martin dan RTX.
Saham Lockheed melesat 10,5% setelah manajemen menaikkan proyeksi penjualan dan laba untuk tahun 2026. Sementara itu, saham RTX menjadi penopang terbesar kedua bagi S&P 500 dengan lonjakan 7,3% usai meningkatkan estimasi kinerja 2026 seiring tingginya permintaan perawatan sistem militer serta pesawat komersial.
Saham induk Google, Alphabet, terhempas 7% dan menjadi penekan terbesar kedua pada indeks acuan setelah mengumumkan rencana pembengkakan pengeluaran serta penurunan arus kas. Tertekannya saham Alphabet turut menyeret indeks layanan komunikasi melemah 5,20%, menjadikannya sektor berkinerja terburuk dari 11 sektor yang ada.
Indeks S&P 500 terkoreksi lebih dari 1% akibat pelemahan meluas setelah para pemodal merasa kurang puas dengan pencapaian kuartal kedua Alphabet dan Tesla, yang menjadi dua emiten awal dari kelompok tujuh raksasa teknologi dalam melaporkan kinerja musim ini.
Tekanan terhadap saham semakin bertambah setelah harga minyak mentah Brent berjangka ditutup melampaui US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, sementara harga minyak berjangka AS berakhir di atas US$ 92.
Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran atas kelancaran pasokan minyak dunia. Angkatan Bersenjata AS melancarkan gelombang serangan udara kedua ke wilayah Iran, sementara Iran membalas dengan menembaki pangkalan-pangkalan AS di negara sekitarnya.
Presiden AS Donald Trump menegaskan bakal menjatuhkan hukuman militer secara masif kepada Iran dan Houthi, setelah kelompok pejuang Yaman tersebut menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di Laut Merah.
Lonjakan harga minyak yang terjadi secara mendadak memantik kekhawatiran inflasi hanya beberapa hari sebelum digelarnya rapat penentuan kebijakan The Federal Reserve.
"Kenaikan harga minyak dengan laju seperti ini menimbulkan risiko makro dan pasar yang signifikan," kata Matt Miskin, salah satu kepala strategi investasi di Manulife John Hancock Investments sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia menambahkan bahwa data pengangguran yang rendah akan menekan The Fed untuk fokus memerangi inflasi sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia juga menunjuk pada kurangnya antusiasme, bahkan untuk laporan pendapatan yang kuat, karena investor kesulitan untuk membenarkan valuasi yang tinggi sebagaimana dilansir dari berita sumber.
"Angka-angka secara keseluruhan bagus, tetapi banyak perusahaan memiliki cerita yang menyebabkan harga sahamnya turun," kata Miskin, menunjuk kekhawatiran tentang pengeluaran modal sebagai salah satu contoh sebagaimana dilansir dari berita sumber.
"Setiap celah dalam pertahanan akan menyebabkan saham-saham tersebut dijual," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Indeks Volatilitas CBOE, yang menjadi indikator kecemasan pasar Wall Street, menguat 2,06 poin ke posisi 18,7 setelah sempat menyentuh level 20,3 yang merupakan posisi tertinggi dalam hampir satu bulan.
Seiring melonjaknya harga komoditas minyak, kekhawatiran inflasi mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke tingkat tertinggi sejak awal 2025. Meski demikian, para pelaku pasar masih memperkirakan probabilitas sekitar 64% bahwa The Fed bakal mempertahankan suku bunga acuannya pada pekan depan, merujuk data FedWatch CME Group.