Wall Street Melemah Menanti Kinerja Perusahaan Teknologi dan Harga Minyak

Kamis, 23 Juli 2026 | 19:50:12 WIB
Ilustrasi Indeks utama Wall (sumber foto : NET)

JAKARTA – Indeks utama Wall Street ditutup melemah pada akhir perdagangan Rabu (22/7/2026) karena pergerakan kinerja saham teknologi yang bervariasi.

Para investor tengah menantikan laporan pendapatan utama guna mengukur keberlanjutan reli pasar yang didorong antusiasme kecerdasan buatan.

Selain itu, pelaku pasar juga memantau ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak berjangka ke level tertinggi dalam enam minggu sehingga memicu kekhawatiran inflasi.

Berdasarkan data Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 6,06 poin atau 0,01 persen ke level 52.218,58.

Indeks S&P 500 juga melemah 10,24 poin atau 0,14 persen ke posisi 7.498,96, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 146,30 poin atau 0,57 persen menjadi 25.690,90.

Volume perdagangan saham di bursa Amerika Serikat tercatat mencapai 15,16 miliar saham, di bawah rata-rata 20 hari perdagangan terakhir sebesar 19,5 miliar saham.

Dua perusahaan raksasa dari kelompok "Magnificent Seven", yakni Alphabet dan Tesla, dijadwalkan merilis kinerja kuartal kedua setelah penutupan pasar.

Para investor mengharapkan bukti nyata bahwa investasi bernilai miliaran dolar di bidang AI mampu memberikan hasil positif.

"Investor menjadi jauh lebih jeli dan spesifik dalam memilih tempat berinvestasi di sektor AI," kata Kevin Gordon, kepala riset dan strategi makro di Charles Schwab, seraya mencatat perbedaan mencolok dalam kinerja antara saham perangkat lunak dan saham chip pada hari itu sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pergerakan saham Alphabet mengalami fluktuasi hingga akhirnya ditutup melemah 1,5 persen.

Perusahaan tersebut mendapat sorotan tajam setelah adanya penundaan peluncuran model yang menjadi inti ambisi pengembangan AI mereka.

Sementara itu, saham Texas Instruments kehilangan momentum pada perdagangan lanjutan, setelah sempat menguat 1 persen di sesi reguler usai memproyeksikan pendapatan kuartal ini di atas ekspektasi.

Saham Tesla turut menambah penurunan sebesar -3 persen di akhir perdagangan setelah sebelumnya terkoreksi 1,3 persen di sesi reguler.

Penurunan tersebut terjadi setelah Tesla melaporkan arus kas bebas bernilai negatif pada kuartal kedua untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun.

Padatnya jadwal rilis laporan keuangan membuat pergerakan pasar rentan berfluktuasi tajam minggu ini, ditambah kehati-hatian akibat faktor ketegangan geopolitik.

Harga minyak mentah berjangka mencatatkan level penutupan tertinggi sejak 11 Juni dengan kenaikan sekitar 3 persen.

Lonjakan harga ini terjadi akibat ancaman milisi Houthi Yaman yang didukung Iran terhadap jalur pelayaran di Laut Merah dan Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump menegaskan bakal menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran jika mereka menembak kapal di selat tersebut.

"Tidak termasuk perdagangan AI berkapitalisasi besar, ada unsur yang terkait dengan harga minyak yang mendorong pasar," kata Gordon dari Schwab, seraya mencatat bahwa harga minyak yang tinggi memicu kekhawatiran inflasi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Orang-orang bersikap defensif terhadap sektor utilitas, tetapi dengan harga energi dan material yang lebih tinggi, itulah komponen inflasinya." sebagaimana dilansir dari berita sumber

Berdasarkan hasil jajak pendapat median para ekonom oleh Reuters, Federal Reserve diproyeksikan akan mempertahankan suku bunga acuan hingga akhir tahun 2026.

Meskipun demikian, para responden menilai risiko kenaikan suku bunga acuan masih tergolong tinggi.

Berdasarkan alat FedWatch dari CME Group, para pedagang memperhitungkan probabilitas sebesar 66 persen bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan pekan depan.

Terkini