JAKARTA – Reaksi pasar saham domestik terhadap keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate sebesar 5,75% terbilang cukup rasional. Investor mulai melakukan aksi selective buying.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu (22/7/2026) sempat tertekan di sesi pertama akibat keputusan BI dan pelemahan rupiah, namun berhasil memangkas penurunannya hingga ditutup melemah tipis 0,09% ke level 6.334.
Rebound intraday tersebut terutama disokong oleh rotasi dana ke saham teknologi yang menguat 1,58%, dipimpin BUKA, KIOS, dan DIVA. Saham energi seperti MEDC, PGEO, AKRA, ANTM, dan ESSA juga terdorong sentimen positif kenaikan harga minyak dunia yang mendekati US$ 93 per barel.
“Hal itu menunjukkan investor mulai melakukan selective buying pada sektor-sektor yang memiliki katalis spesifik, baik dari sisi global maupun prospek kinerja,” kata pengamat pasar modal dan pendiri Republik Investor, Hendra Wardana sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Meski demikian, rotasi tersebut masih harus diuji keberlanjutannya karena belum diiringi penguatan merata pada saham perbankan berkapitalisasi besar maupun sektor defensif.
“Selama arus dana asing belum kembali stabil, peluang rotasi sektoral masih berpotensi berlangsung cepat dan lebih bersifat trading dibandingkan menjadi tren jangka menengah,” ungkap Hendra sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di sisi lain, langkah Bank Indonesia memperluas instrumen insentif guna menarik investasi portofolio asing serta memperdalam pasar uang dan valas merupakan langkah positif dari sisi fundamental. Kebijakan ini dapat meningkatkan fleksibilitas investor asing dalam mengelola likuiditas dan risiko nilai tukar, sehingga daya tarik aset keuangan Indonesia menjadi lebih baik.
Namun, efektivitas kebijakan ini terhadap pasar saham diperkirakan belum langsung terlihat dalam jangka pendek. Investor asing saat ini masih memperhitungkan faktor eksternal seperti arah kebijakan Federal Reserve, konflik geopolitik Timur Tengah, harga minyak, hingga stabilitas rupiah.
Kondisi tersebut tercermin dari net sell investor asing yang kembali menyentuh Rp 1,1 triliun pada perdagangan kemarin, setelah sempat mencatatkan net buy beberapa hari sebelumnya.
Artinya, kebijakan BI lebih berfungsi sebagai fondasi untuk memperkuat kepercayaan investor dan menjaga stabilitas pasar keuangan, sementara kembalinya arus modal asing tetap membutuhkan dukungan sentimen global serta stabilitas rupiah.
“Bagi pasar saham, keputusan mempertahankan suku bunga di level 5,75% memberikan kepastian bahwa biaya dana (cost of fund) tidak kembali meningkat,” tutur Hendra sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Keputusan mempertahankan BI Rate di level 5,75% cenderung menguntungkan sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti perbankan, properti, konsumer, otomotif, serta emiten berutang tinggi karena beban bunga relatif terjaga.
Namun, pada perdagangan kemarin dampak tersebut belum sepenuhnya tercermin pada harga saham. Saham perbankan besar seperti BBRI dan beberapa saham defensif masih tertekan, sementara investor lebih memilih sektor teknologi dan energi yang mendapat katalis jangka pendek.
Hal ini menunjukkan bahwa sentimen global masih menjadi penggerak utama pasar saat ini. Secara teknikal, IHSG masih berkonsolidasi dengan potensi menguji area support MA5 di kisaran 6.238 jika tekanan jual asing berlanjut.
“Selama area tersebut mampu dipertahankan, peluang rebound tetap terbuka dengan target resistance di kisaran 6.515,” jelas Hendra sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Jika area support tersebut ditembus disertai net sell asing yang berlanjut dan pelemahan rupiah, tekanan koreksi dapat meningkat sehingga investor disarankan tetap selektif dan disiplin mengelola risiko.
Adapun keputusan BI mempertahankan BI Rate di level 5,75% menandakan bank sentral masih mengambil sikap wait and see di tengah situasi global yang belum kondusif.
Keputusan ini tidak berarti siklus kebijakan moneter telah berakhir, tetapi memberi sinyal bahwa ruang kenaikan suku bunga kian terbatas selama inflasi domestik terkendali dan nilai tukar rupiah stabil.
Saat ini, fokus utama BI adalah menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, arus modal asing, serta pemulihan ekonomi.
Dengan kondisi ini, peluang kenaikan suku bunga relatif kecil kecuali ada eskalasi risiko global seperti lonjakan harga minyak atau penguatan dolar AS. Sebaliknya, peluang penurunan suku bunga juga belum terbuka dalam waktu dekat karena BI masih harus memastikan stabilitas eko