IHSG Melonjak 1,51 Persen pada Sesi I Seiring Keputusan BI Rate dan AI

Kamis, 23 Juli 2026 | 19:17:27 WIB
Ilustrasi saham (sumber foto : NET)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi I perdagangan Kamis (23/7/2026) di zona hijau pascadikeluarkannya keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan. Selain itu, dorongan positif juga datang dari optimisme pasar terhadap prospek industri kecerdasan buatan (AI).

Sampai penutupan sesi I, IHSG melonjak sebesar 95,68 poin (1,51%) menuju posisi 6.430. Kenaikan ini terjadi di tengah dinamika bursa saham Asia yang bergerak bervariasi.

Pilarmas Investindo Sekuritas memaparkan bahwa laju positif IHSG dipicu oleh langkah BI yang menahan BI-Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026.

“Keputusan tersebut diambil setelah bank sentral sebelumnya menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 100 basis poin sejak Mei 2026, sehingga kini memilih mengevaluasi dampak pengetatan moneter terhadap stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Kamis (23/7/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Bank sentral menilai tingkat inflasi masih terjaga dalam rentang target, sedangkan langkah moneter yang telah berjalan dianggap memadai untuk menopang stabilitas makroekonomi.

Ke depannya, BI bakal terus memantau dinamika global, seperti ketidakpastian geopolitik dan arah suku bunga The Fed, seraya memperkuat kebijakan pendukung demi menjaga stabilitas rupiah serta menjaring aliran modal asing.

Dari sisi eksternal, Pilarmas menyebutkan bahwa pergerakan pasar turut terangkat oleh penguatan saham semikonduktor setelah beberapa raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) memberi sinyal kelanjutan investasi pada infrastruktur AI.

“Kondisi tersebut meningkatkan optimisme investor terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang emiten yang bergerak di sektor kecerdasan buatan dan semikonduktor,” jelas Pilarmas sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meski demikian, Pilarmas menambahkan bahwa para pelaku pasar tetap mewaspadai eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah. Perselisihan yang kian memanas antara AS dan Iran memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, sehingga menghembuskan kekhawatiran atas terganggunya pasokan energi serta risiko inflasi global.

“Situasi tersebut berpotensi membuat suku bunga tetap tinggi lebih lama dan menjadi faktor yang membatasi penguatan pasar saham,” tambah Pilarmas sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kondisi geopolitik kian rumit usai kelompok Houthi yang disokong Iran mengklaim telah menyerang dua kapal tanker milik Arab Saudi di Laut Merah. Sementara itu, aksi saling serang antar kedua negara terus berlangsung dan prospek negosiasi damai diperkirakan semakin tipis.

Memasuki akhir sesi pertama, deretan saham yang mencatatkan kenaikan tertinggi meliputi MLPT, ZATA, ENAK, MPRO, dan MDIA. Di sisi lain, saham yang terperosok paling dalam adalah SWID, KREN, FORU, BMSR, serta MORE.

Pilarmas menyarankan buy untuk saham DSSA. “Secara teknikal, saham DSSA memiliki area support di level 880 dan resistance di level 1.080,” tutup Pilarmas sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkini

10 Ikan Hias Air Tawar Mudah Dipelihara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:38:20 WIB

Pentingnya Memilih Pakan Ikan Berkualitas

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:23:01 WIB