Danantara Berpotensi Tawarkan Premi Yield Lebih Tinggi ke Investor

Kamis, 23 Juli 2026 | 19:17:27 WIB
Ilustrasi Moody's (sumber foto : NET)

JAKARTA – Penilaian Moody's Ratings yang kembali mempertahankan outlook negatif terhadap obligasi global Danantara Investment Management (DIM) berpotensi membuat lembaga sovereign wealth fund (SWF) tersebut menawarkan premi risiko lebih tinggi kepada investor global. Artinya, selalu ada harga yang dibayar di balik kepercayaan investor global.

Danantara berencana menerbitkan lagi obligasi global yang merupakan bagian dari global medium term notes (MTN) senilai US$5 miliar. Nilai penghimpunan dana eksternal ini tiga kali lipat lebih tinggi dari nilai penerbitan obligasi global perdana yang sebesar US$1,5 miliar.

Dengan nilai emisi yang lebih jumbo, Danantara akan memerlukan basis permintaan investor yang lebih luas. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin imbal hasil yang ditawarkan bakal lebih premium demi memikat minat investor.

Jika bercermin pada penerbitan perdananya, Danantara menetapkan imbal hasil (yield) sebesar 5,35 persen untuk obligasi global bertenor 5 tahun dengan spread 32 basis points (bps) di atas kurva sovereign Republik Indonesia (RI). Angka tersebut terdiri dari premi 22 bps di atas nilai wajar sovereign dan konsesi penerbitan perdana sebesar 10 bps.

Sementara itu, imbal hasil untuk tenor 10 tahun ditetapkan sebesar 5,95 persen atau 34 bps di atas sovereign RI.

Meski tambahan spread pada penerbitan perdana tidak melebar seperti yang dikhawatirkan, sikap Moody’s yang konsisten mempertahankan outlook negatif terhadap obligasi global senilai US$5 miliar yang akan dirilis DIM memunculkan risiko tersendiri. Sebagai contoh, appetite investor akan semakin ekstra hati-hati dan berpotensi menuntut tambahan kupon menyusul nilai penerbitan yang jauh lebih tinggi.

Bagi Moody’s, penetapan outlook negatif dengan peringkat Baa2 baik untuk obligasi maupun DIM selaku penerbitnya dilakukan sesuai dengan sovereign Pemerintah Indonesia yang juga berperingkat Baa2. Penyelarasan ini menunjukkan bahwa DIM dan Pemerintah Indonesia memiliki keterkaitan yang kuat, meliputi struktur kepemilikan DIM, peran pemerintah dalam Danantara, dan ekspektasi dukungan luar biasa pemerintah terhadap Danantara.

“Kami mengklasifikasikan DIM sebagai Government Related Issuer (GRI) dan menerapkan pendekatan top down. Tidak ada Baseline Credit Assessment (BCA) yang diberikan, mengingat DIM masih berada pada tahap awal pengembangan, memiliki rekam jejak yang terbatas, dan belum memiliki operasi mandiri yang signifikan. Karena itulah, peringkatnya didorong terutama oleh keterkaitan dengan sovereign, bukan oleh kekuatan kredit mandiri,” tulis Moody’s dalam dokumen resminya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Mengamati outlook Moody’s terhadap obligasi Danantara, Kepala Riset KISI Sekuritas Muhammad Wafi berpendapat, outlook negatif tersebut akan lebih berdampak pada permintaan imbal hasil yang berpotensi lebih tinggi alih-alih mengkhawatirkan obligasi Danantara akan kembali oversubscribed atau tidak. Pasalnya, kategori investor yang membeli surat utang Danantara merupakan tipikal pelaku pasar yang memburu kupon tinggi dan toleran terhadap risiko yang lebih besar.

Tak heran, kendati Moody’s memberikan outlook negatif terhadap penerbitan perdana Danantara, obligasi global dari lembaga yang dipimpin Pandu Sjahrir itu tetap laku keras.

“Jadi, kami melihat pengaruhnya pada spread yang berpotensi bertambah 30-75 bps dan mempersempit cakupan investor,” ujar Wafi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Wafi menyebut beberapa faktor kunci yang bisa mendukung keberhasilan obligasi global Danantara kali ini. Pertama adalah dukungan implisit dari Pemerintah Indonesia.

Faktor kedua yaitu imbal hasil premium untuk level kredit di pasar negara berkembang (emerging market). Faktor ketiga adalah momentum nilai tukar rupiah yang menguat serta indeks harga saham gabungan (IHSG) yang reli.

Di luar itu, Wafi juga menyebut faktor lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan, yaitu kualitas roadshow dari manajemen Danantara yang harus bisa menjelaskan dengan baik rencana penggunaan dana dari hasil penerbitan obligasi tersebut dan tata kelola yang jelas. Selanjutnya, adanya SWF atau bank sentral regional yang bersedia menjadi anchor agar investor lebih yakin untuk ikut membeli obligasi Danantara.

Jika seluruh obligasi ini sukses terserap, Danantara tentu akan mengantongi dana US$5 miliar untuk membiayai investasi mereka di berbagai sektor mulai dari infrastruktur, transisi energi, hingga hilirisasi. Implikasinya, emiten saham di sektor-sektor terkait berpotensi diuntungkan oleh investasi Danantara tersebut, terutama emiten yang bergerak di area infrastruktur dan energi baru terbarukan (EBT) serta bank besar yang terlibat sebagai arranger.

Lebih dari itu, keberhasilan penerbitan obligasi Danantara juga akan menjadi katalis positif bagi IHSG sekaligus memperkuat outlook stabil yang dinarasikan oleh S&P Global Ratings.

“Bagi investor yang mempertimbangkan untuk membeli, pastikan yield spread cukup, memilih tenor yang tidak terlalu panjang dan posisikan bukan sebagai core portofolio,” tandas Wafi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkini

10 Ikan Hias Air Tawar Mudah Dipelihara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:38:20 WIB

Pentingnya Memilih Pakan Ikan Berkualitas

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:23:01 WIB