Singaraja Putra Ungkap Rencana Usai Akuisisi Saham KMS Rp 1,73 Triliun

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:29:58 WIB
Ilustrasi saham (sumber foto: NET)

JAKARTA – PT Singaraja Putra Tbk (SINI) memberikan penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai aksi akuisisi saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) milik anak usaha PT Petrosea Tbk (PTRO) senilai Rp 1,73 triliun atau 110,26% dari total aset emiten tersebut.

Manajemen SINI menyampaikan bahwa akuisisi KMS merupakan bagian dari strategi pengembangan bisnis serta peningkatan investasi di sektor pertambangan yang mempunyai prospek pertumbuhan jangka menengah secara positif.

Apalagi, merujuk RUPTL 2025--2034, kebutuhan listrik nasional diproyeksikan tumbuh rata-rata 5,3% per tahun, sehingga batu bara diperkirakan tetap memegang peran penting guna mendukung pasokan energi nasional jangka menengah.

"Akuisisi ini diharapkan dapat memperluas cakupan usaha perusahaan, memperkuat portofolio investasi di sektor pertambangan batubara, serta meningkatkan kontribusi pendapatan dan laba perusahaan," ungkap Manajemen SINI dalam keterbukaan informasi, Selasa (21/7/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada jangka pendek, langkah akuisisi tersebut bakal menambah nilai aset bagi SINI.

Emiten ini juga dapat mengerek kepercayaan investor lantaran akuisisi tersebut memberikan nilai tambah bagi perusahaan maupun para pemangku kepentingan.

Dalam jangka panjang, akuisisi ini berpotensi mendongkrak kapasitas produksi dan volume penjualan batu bara, memicu pertumbuhan pendapatan dan laba, membentuk sinergi operasional demi meningkatkan daya tawar perusahaan, sampai mengurangi ketergantungan pada satu wilayah operasi semata.

Selepas akuisisi KMS, Singaraja Putra bakal menyinergikan seluruh aspek operasional seperti penjualan, produksi, logistik, dan lainnya agar perusahaan berpeluang meraih hasil maksimal pada kinerja operasional.

Dari sisi infrastruktur fisik, entitas anak KMS yakni PT Cristian Eka Pratama (CEP) mempunyai area pertambangan yang berbeda dibandingkan anak usaha SINI sebelumnya.

Dalam hal ini, CEP beroperasi di Kalimantan Timur, sedangkan anak perusahaan SINI berlokasi di Kalimantan Tengah.

"Namun, melalui akuisisi KMS, maka perusahaan juga dapat meningkatkan standar operasionalnya, sehingga perusahaan dapat meningkatkan kualitas dalam pembangunan infrastruktur yang akan menunjang efisiensi biaya operasional dari perusahaan," ungkap Manajemen SINI sebagaimana dilansir dari berita sumber.

KMS ditargetkan memiliki kenaikan produksi batu bara tahunan secara bertahap.

Tahap awal dimulai dari kisaran 1 juta ton per tahun, lalu meningkat menjadi 3,6 juta ton per tahun, hingga mencapai kapasitas produksi optimal sekitar 5 juta ton per tahun dengan memperhitungkan perkembangan infrastruktur, kondisi operasional, dan dinamika pasar.

Berpatokan pada rencana produksi tersebut, masa tambang KMS diperkirakan berjalan hingga sekitar tahun 2038, yang dapat menyesuaikan perubahan rencana penambangan maupun faktor operasional dan regulasi yang berlaku.

Seiring naiknya kapasitas produksi KMS, SINI mematok target volume penjualan batu bara konsolidasian tumbuh bertahap jika dibandingkan realisasi tahun 2025 yang sebesar 203.057 ton.

Peningkatan tersebut disesuaikan terhadap kesiapan infrastruktur, kondisi operasional, serta permintaan pasar.

"Keberadaan KMS diharapkan menjadi salah satu sumber pertumbuhan produksi perusahaan ke depan," urai Manajemen SINI sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping itu, SINI menyebutkan adanya kontrak jasa pertambangan jangka panjang sampai 2032 antara anak usahanya, PT Pasir Bara Prima, dengan PTRO selaku pembeli siaga dalam pelaksanaan Penambahan Modal lewat Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I SINI.

Meski demikian, kontrak tersebut terikat secara terpisah serta bukan merupakan bagian atau syarat dari transaksi pengambilalihan saham KMS oleh perusahaan.

Terkini

10 Ikan Hias Air Tawar Mudah Dipelihara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:38:20 WIB

Pentingnya Memilih Pakan Ikan Berkualitas

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:23:01 WIB