JPMorgan Naikkan Rating BBRI Jadi Overweight dengan Target Rp3.400

Selasa, 21 Juli 2026 | 20:15:34 WIB
Ilustrasi saham (Sumber : NET)

JAKARTA – Lembaga keuangan global JPMorgan memberikan pandangan positif terhadap kinerja saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Lewat laporan riset bertajuk "Micro trumps macro; tactical upgrade to OW" terbitan 19 Juli 2026, JPMorgan menaikkan peringkat BBRI dua tingkat dari Underweight menjadi Overweight serta menetapkan target harga Rp3.400 per saham hingga Juni 2027.

Langkah ini memperlihatkan pembalikan arah pandangan dari analisis sebelumnya. Tim analis JPMorgan yang dipimpin Harsh Wardhan Modi sempat menyematkan rating Underweight untuk saham bank BUMN tersebut sepanjang semester pertama 2026.

Meski kondisi makroekonomi masih dipenuhi tantangan, fundamental bisnis mikro BRI dinilai sangat solid untuk memicu kenaikan harga saham. Strategi ini tergambar pada judul laporan mereka yang menegaskan bahwa sektor mikro sanggup mengungguli tekanan makro.

Sikap optimistis JPMorgan ini dipicu oleh perbaikan kualitas aset pada segmen mikro. BBRI tercatat memperketat sistem underwriting dan menata manajemen penagihan demi menekan biaya kredit agar sesuai dengan panduan manajemen.

Salah satu perbaikan struktural yang dilakukan adalah dengan memangkas beban kerja petugas kredit mikro. BRI berhasil menurunkan rasio debitur mikro dari 528 per petugas pada 2022 menjadi 456 debitur, serta berencana menekannya hingga mendekati angka 400 debitur.

Penyesuaian ini berdampak pada pemantauan dan proses penagihan yang lebih intensif. Petugas kredit kini difokuskan pada pengelolaan kredit lancar dan bermasalah, sedangkan porsi penjualan aset tertulis dialihkan kepada pihak ketiga.

Kebijakan tersebut membuahkan perbaikan pada indikator net downgrade to NPL segmen mikro. Sementara pada segmen SME, pembatasan fasilitas pinjaman maksimal 75% dari kelebihan arus kas turut meningkatkan performa kredit.

Meskipun terdapat kelemahan pada sektor kredit konsumer seperti KPR, skalanya dinilai tidak memengaruhi pemulihan kualitas aset bank secara menyeluruh.

JPMorgan juga menilai perbaikan arus kas masyarakat kelas bawah terdorong oleh berbagai program pemerintah. Dampak rembesan dari program makan bergizi gratis dan pembentukan koperasi terbukti menopang arus kas basis nasabah utama BRI.

Di samping itu, penyaluran bantuan berbasis kebijakan serta subsidi energi berhasil menahan tekanan arus kas di segmen mikro dan pedesaan.

Faktor-faktor ini membuat JPMorgan memproyeksikan adanya potensi reli jangka pendek pada saham BRI. Momentum ini membuka peluang bagi investor untuk mengambil posisi taktis dalam kurun waktu satu bulan mendatang.

Dari sudut pandang valuasi, saham BBRI dinilai berada pada level yang sangat menarik. Pada posisi harga Rp2.970 per saham per 17 Juli 2026, BBRI diperdagangkan pada rasio 7,3 kali PE dan 1,31 kali PB untuk proyeksi 2026.

Dibandingkan bank BUMN besar lainnya, valuasi BBRI terlihat jauh lebih murah. Valuasi ini berada di bawah Bank Mandiri (BMRI) serta Bank Negara Indonesia (BBNI) berdasarkan metrik PE/PB 5 dan 10 tahun.

Tingkat valuasi yang rendah menunjukkan bahwa penyesuaian negatif sudah tercermin dalam harga pasar. Hal tersebut berlaku selama koreksi dipicu oleh penurunan laba operasional sebelum provisi (PPoP), bukan masalah fundamental.

Target harga Rp3.400 diturunkan melalui metode Dividend Discount Model (DDM) dengan asumsi P/BV wajar 1,24 kali dan tingkat pengembalian ekuitas ternormalisasi 17,4%. Angka tersebut menawarkan potensi kenaikan sekitar 14% dari harga penutupan Rp2.970, di luar pembagian dividen.

Laporan ini menekankan keunggulan BBRI dalam memberikan imbal hasil dividen yang tinggi bagi para pemegang saham.

BBRI tercatat memiliki modal melebihi kebutuhan ekspansinya, sehingga rasio pembayaran dividen diproyeksikan bertahan tinggi di kisaran 92,6%.

Proyeksi imbal hasil dividen BBRI diperkirakan mencapai 11,3% pada 2026, lalu naik menjadi 12,0% pada 2027 dan 13,2% pada 2028. Tingkat pengembalian ini menjadikan BBRI sebagai salah satu saham pilihan utama untuk strategi investasi berbasis dividen.

Meskipun pembagian dividen besar membatasi pertumbuhan nilai buku, investor diuntungkan oleh aliran dividen yang konsisten.

Kinerja keuangan BRI juga ditopang oleh fondasi yang sangat kuat. Laba bersih yang disesuaikan diproyeksikan mencapai Rp54,7 triliun pada 2026, serta meningkat menjadi Rp58,3 triliun pada 2027 dan Rp64,0 triliun pada 2028.

Tingkat profitabilitas bank tetap solid dengan proyeksi RoE bergerak dari 16,8% pada 2026 menuju 18,9% pada 2028. Rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 22,7% pada 2026 memberikan ruang yang aman bagi perusahaan untuk membagikan dividen porsi besar, sementara NPL stabil di kisaran 3,1%.

JPMorgan turut menaikkan proyeksi laba BRI periode 2026–2028 sebesar 3% hingga 6%. Penyesuaian ini didorong oleh pemulihan asumsi biaya kredit di kisaran 310 basis poin.

Namun, investor tetap disarankan untuk memperhatikan sejumlah risiko operasional. Margin bunga bersih (NIM) diperkirakan tertekan 26 basis poin menjadi 7,5% pada 2026 akibat kenaikan biaya dana di tengah pengetatan likuiditas.

Kendati proyeksi laba JPMorgan masih berada 8–9% di bawah konsensus pasar, risiko tersebut dianggap sudah terrefleksi pada harga saham yang terdiskon. Penguatan fundamental mikro dan dukungan dividen dua digit membuat BBRI kembali atraktif di mata investor global.

Terkini

10 Ikan Hias Air Tawar Mudah Dipelihara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:38:20 WIB

Pentingnya Memilih Pakan Ikan Berkualitas

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:23:01 WIB