Wall Street: S&P 500 dan Nasdaq Tertekan Aksi Jual Saham Chip

Jumat, 17 Juli 2026 | 14:10:37 WIB
Indeks S&P 500 dan Nasdaq turun akibat aksi jual saham sektor semikonduktor di Wall Street. (Sumber Foto: NET)

NEW YORK - Pasar saham Amerika Serikat bertindak beragam saat transaksi hari Kamis (16/7/2026), di mana indeks S&P 500 serta Nasdaq mengalami penurunan karena adanya aktivitas jual berkelanjutan pada saham-saham sektor semikonduktor.

Kelesuan pada bidang cip membayangi sentimen bagus dari permulaan musim pelaporan keuangan kuartal II serta beberapa data ekonomi Negeri Paman Sam yang memperlihatkan inflasi mulai mereda.

Merujuk kantor berita asing hingga pukul 09.50 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average terangkat 82,28 poin atau 0,16% menjadi 52.740,92.

Sebaliknya, S&P 500 menyusut 29,56 poin atau 0,39% ke posisi 7.542,84, sementara Nasdaq Composite terperosok 262,08 poin atau 1% menjadi 26.007,14.

Indeks semikonduktor Philadelphia SE Semiconductor anjlok 3,8%, melanjutkan koreksi dari periode sebelumnya.

Saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) yang ditransaksikan di sana turun 2,5%, walaupun produsen cip kecerdasan buatan terbesar di dunia tersebut mencatat lonjakan laba kuartal II yang melampaui harapan pasar.

Sementara itu, saham produsen cip memori pun mendapatkan tekanan.

Western Digital dan Seagate Technology masing-masing melemah 7,3%, sedangkan Micron Technology berkurang 4,8%.

Pendiri dan CEO dari Sumbernya menyatakan, reli saham semikonduktor mulai kehilangan tenaga.

Akan tetapi, menurut pandangannya hal tersebut bukan disebabkan oleh prospek kecerdasan buatan (AI) melemah, melainkan adopsi AI secara luas masih memerlukan durasi.

"Reli saham chip mulai mendingin, tetapi bukan karena AI kehilangan daya tarik. Belanja modal di seluruh ekosistem AI, mulai dari sektor energi hingga semikonduktor, masih terus berlangsung," ujarnya.

Selama tahun berjalan ini, indeks S&P 500 telah meningkat lebih dari 10% dan masih berada dekat dengan rekor penutupan tertinggi yang dicapai pada Juni.

Situasi tersebut menjadikan pasar lebih rawan terhadap aksi ambil untung atau kekecewaan atas hasil emiten.

Dalam lingkup sektoral, saham keperluan pokok konsumen memimpin penguatan dengan kenaikan 2,1%, sementara sektor teknologi informasi berkurang 1,9% sehingga membatasi peningkatan indeks secara keseluruhan.

Investor juga mengamati data ekonomi teranyar.

Penjualan ritel AS pada Juni hanya naik tipis, utamanya karena penurunan harga bensin yang menekan nominal penjualan di SPBU.

Walaupun demikian, belanja konsumen secara umum masih tetap terjaga.

"Pertumbuhan penjualan ritel yang lebih lambat justru merupakan kabar baik karena terutama disebabkan oleh turunnya harga bensin, bukan melemahnya permintaan konsumen," kata Kepala Ekonom AS dari Sumbernya, Bill Adams.

Menurutnya, angka tersebut memberikan indikasi positif terhadap perkembangan produk domestik bruto (PDB) riil AS pada kuartal II.

Data lain memperlihatkan klaim baru tunjangan pengangguran AS berkurang menjadi 208.000 pada pekan yang berakhir 11 Juli, lebih kecil dibandingkan estimasi ekonom.

Laporan inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi pada awal minggu ini juga mempertebal keyakinan pasar bahwa bank sentral belum akan menaikkan bunga dalam waktu dekat.

Berdasarkan alat pantau khusus, pelaku pasar memprediksi peluang bank sentral menjaga bunga pada pertemuan bulan ini mencapai sekitar 88%.

Di tengah pelemahan pasar, saham UnitedHealth Group melesat 7,8% sesudah perusahaan menaikkan target laba 2026.

Peningkatan tersebut ikut menjaga indeks Dow Jones, sementara sektor kesehatan menguat sekitar 2%.

Di sisi lain, pelaku pasar masih memperhatikan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Kantor berita asing melaporkan Iran telah meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur pelayaran Laut Merah jika AS menyerang infrastruktur kelistrikan Iran.

Potensi gangguan terhadap pasokan energi global tersebut kembali mendorong kenaikan harga minyak.

Peningkatan harga minyak ikut membebani saham perusahaan penerbangan.

Saham United Airlines turun 2,8% setelah perusahaan memberikan peringatan prospek laba kuartal III dan sepanjang 2026 dapat tertekan oleh lonjakan biaya bahan bakar.

Sementara itu, saham GE Aerospace terkoreksi 4,4% meskipun pembuat mesin pesawat tersebut menaikkan target laba tahun 2026.

Terkini

10 Ikan Hias Air Tawar Mudah Dipelihara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:38:20 WIB

Pentingnya Memilih Pakan Ikan Berkualitas

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:23:01 WIB