Bank Sentral Hawkish, Manulife IM Sarankan Strategi Investasi Aktif

Rabu, 15 Juli 2026 | 09:45:49 WIB
Manulife IM mendorong strategi investasi aktif di tengah kebijakan bank sentral yang hawkish. (Sumber Foto: NET)

JAKARTA — Manulife Investment Management menilai investor perlu menerapkan strategi investasi yang lebih selektif serta aktif di tengah sikap bank sentral global yang cenderung hawkish untuk merespons risiko inflasi.

Walaupun ketidakpastian geopolitik masih membayangi, pasar Asia dinilai tetap memberikan peluang diversifikasi bagi portofolio global.

Senior Global Macro Strategist Manulife Investment Management Yuting Shao mengatakan konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah telah mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter global.

Menurut Yuting Shao, tekanan harga energi yang masih tinggi membuat sejumlah bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga yang ketat guna mengantisipasi risiko inflasi lanjutan.

"Ekspektasi sebelumnya bahwa pelonggaran moneter akan berlangsung secara luas dan searah kini mulai bergeser. Tekanan biaya energi yang masih tinggi memaksa bank sentral di sejumlah kawasan untuk mempertahankan sikap hawkish guna mengantisipasi dampak lanjutan terhadap inflasi," ujar Shao dari Sumbernya, Selasa (14/7/2026).

Yuting Shao menambahkan siklus ekonomi global saat ini bergerak semakin tidak merata.

Negara-negara yang memiliki ketahanan energi domestik maupun memperoleh manfaat dari perkembangan teknologi dinilai mampu menunjukkan ketahanan ekonomi yang lebih baik dibandingkan kawasan lainnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Global Head of Multi-Asset Solutions Manulife Investment Management Luke Browne mengatakan kondisi itu semakin mempertegas pentingnya diversifikasi portofolio serta pengelolaan investasi secara aktif.

"Dengan pasar tenaga kerja yang masih kuat dan menunda terjadinya pelonggaran moneter yang signifikan, kami mempertahankan pendekatan yang sangat selektif dalam alokasi aset. Risiko dan peluang kini semakin tidak merata antar kawasan maupun kelas aset," kata Browne dari Sumbernya.

Menurut Luke Browne, kepemimpinan pasar saham ke depan diperkirakan tidak lagi hanya didominasi oleh saham-saham teknologi berkapitalisasi besar serta tema kecerdasan buatan, tetapi mulai meluas ke aset berkualitas tinggi dengan valuasi yang lebih menarik.

Selain saham, Manulife Investment Management juga melihat peluang pada aset riil, khususnya komoditas yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan, serta instrumen kredit yang masih menawarkan imbal hasil kompetitif.

Di pasar obligasi, perusahaan lebih memilih obligasi berdurasi pendek sebagai strategi untuk mengelola risiko kenaikan suku bunga.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Asia dinilai tetap memiliki daya tarik bagi investor global.

Manulife Investment Management menilai ekspansi infrastruktur teknologi, ketahanan energi domestik di sejumlah negara, serta fundamental neraca perusahaan yang relatif kuat menjadi faktor yang menopang prospek kawasan tersebut.

Memasuki semester II/2026, Manulife Investment Management menilai kemampuan investor untuk beradaptasi terhadap perbedaan laju pertumbuhan ekonomi antarnegara serta inflasi yang masih bertahan akan menjadi faktor penentu kinerja portofolio.

Perusahaan meyakini perpaduan diversifikasi lintas aset, pengelolaan investasi aktif, serta eksposur terhadap tema pertumbuhan struktural di Asia dapat membantu investor memperoleh imbal hasil jangka panjang yang lebih stabil.

Terkini