JAKARTA – Para petinggi di jajaran manajemen PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) serentak memborong saham perusahaan badan usaha milik negara ini.
Tindakan membeli saham tersebut merupakan bagian dari langkah investasi pribadi karena harga saham PGAS berada dalam tren menurun.
Merujuk keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat tiga direktur PGAS yang mengumpulkan total 724 ribu lembar saham melalui transaksi yang dilaksanakan secara bersamaan pada 10 Juli 2026.
Tindakan pembelian saham tersebut dilakukan oleh Direktur Utama PGN Arief Kurnia Risdianto, Direktur Keuangan Catur Dermawan, serta Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis Mirza Mahendra.
Direktur Utama PGN Arief Kurnia Risdianto menjadi pembeli terbanyak dengan mengumpulkan 679 ribu saham PGAS pada harga Rp1.470 per saham.
Nominal transaksi tersebut mencapai sekitar Rp998,13 juta.
Pembelian tersebut merupakan transaksi pertama Arief dan dilaksanakan untuk keperluan investasi.
Sementara itu, Direktur Keuangan PGN Catur Dermawan membeli 25 ribu saham pada harga Rp1.410 per lembar dengan nominal transaksi Rp35,25 juta.
Sesudah transaksi tersebut, jumlah kepemilikan saham PGAS milik Catur bertambah menjadi 75 ribu lembar.
Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Mirza Mahendra juga turut menambah jumlah kepemilikan saham dengan membeli 20 ribu lembar pada harga Rp1.450 per saham senilai Rp29 juta.
Setelah transaksi itu, jumlah kepemilikan saham PGAS yang dikuasai Mirza menjadi 70 ribu lembar.
Pada perdagangan penutupan akhir pekan lalu, saham PGAS berakhir menguat.
Harga saham PGAS naik 65 poin atau 4,65% menjadi Rp1.465 per saham.
Akan tetapi harga saham PGAS masih terakumulasi melemah 110 poin atau 6,98% sepanjang satu bulan terakhir.
Kemudian secara year to date (YTD) sejak perdagangan 2 Januari 2026, harga saham PGAS tercatat turun 465 poin atau 24,09% dibandingkan posisi awal tahun yang berada di level Rp1.930 per saham.
Di tengah penurunan harga, rasio harga terhadap laba (price earning ratio/PER) serta rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/PBV) menarik untuk diperhatikan.
Pada perdagangan Jumat (10/7), PER saham PGAS hanya 5,77 dan PBV 0,74.
PER memperlihatkan berapa kali lipat harga saham dibandingkan laba bersih per lembarnya.
Semakin kecil angka PER, semakin terjangkau saham itu secara laba.
Namun terjangkau di sini tidak secara otomatis berarti pantas dibeli.
PBV membandingkan harga saham dengan nilai aset bersih perusahaan per lembar.
PBV di bawah 1 kali menandakan saham diperjualbelikan di bawah nilai bukunya, sedangkan di atas 1 kali berarti pasar memberikan penilaian terhadap perusahaan lebih tinggi dibandingkan asetnya.