Komparasi Kinerja Saham IPO: Menguji Taji RANS, PRDL, hingga BACH

Senin, 13 Juli 2026 | 13:26:05 WIB
Saham PT RANS Entertainment Indonesia Tbk. mencatat oversubscription hampir satu juta kali pada IPO. (Sumber Foto: NET)

JAKARTA — Sebanyak tujuh korporasi telah mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode ini, dan sebagian di antaranya mencetak kelebihan permintaan (oversubscribed).

Akan tetapi, besarnya minat perdana itu dinilai tidak secara otomatis memastikan performa saham bakal tetap memukau nantinya.

Bursa sekarang menjumpai fase baru di mana pembedaan hasil antar-emiten baru setelah tercatat di pasar modal mulai tampak nyata.

Berdasarkan catatan transaksi, seluruh korporasi yang melantai periode ini sukses mencetak rekor kelebihan permintaan.

Namun, saat menguji kemampuan di pasar sekunder, tingkat kenaikan harga sahamnya memperlihatkan perbandingan yang sangat kontras.

Rekor oversubscription paling besar dialami oleh saham PT RANS Entertainment Indonesia Tbk. (RANS), di mana pengelola menyatakan kelebihan permintaan terjadi sebesar hampir satu juta kali.

Namun, terkait pertumbuhan harga pasca-listing, RANS (+34,12%) masih tertinggal dari PT Prodia Diagnostics Line Tbk. (PRDL) yang meroket 81,67%, bahkan terpaut jauh dari PT BSA Logistics Indonesia Tbk. (WBSA) yang memimpin dengan lonjakan 429,17%.

Besarnya minat pada IPO RANS tidak terlepas dari pengaruh industri kreatif serta profil pendirinya.

Direktur Utama RANS Nagita Slavina menjelaskan bahwa IPO RANS merupakan bukti karya memiliki nilai yang diakui secara profesional di panggung ekonomi profesional.

"Industri kreatif tidak lagi berdiri di pinggiran. Kami sekarang berdiri sejajar di barisan terdepan bersama industri strategis lainnya untuk menggerakkan bangsa ini,” ujar Nagita dari Sumbernya, Jumat (10/7/2026).

Di sisi lain, Founder RANS Raffi Ahmad menyebut bahwa dari Sumbernya terinspirasi untuk mengubah bisnis kreator menjadi organisasi berbasis kekayaan intelektual yang memakai model usaha global Walt Disney.

Raffi mengibaratkan dari Sumbernya sebagai sosok Walt Disney, sementara RANS diletakkan sebagai "Disneyland" dengan aset seperti Rafathar, Rayyanza, produk FMCG, hingga wahana bermain Cipungland.

"Saya ingin membuktikan bahwa nama besar itu bisa berubah menjadi legacy yang kalau dikelola secara profesional akan menjadi baik. Jadi, kalau sudah tidak ada saya, RANS tetap hidup,” ujarnya dari Sumbernya di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Dalam IPO-nya, RANS melepas sebanyak 2,52 miliar saham baru (20,02%) dengan harga Rp170 per lembar dan menghimpun modal senilai Rp429,25 miliar.

Melihat fenomena ini, Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang menyatakan bahwa bursa kini mulai lebih selektif dalam menyerap saham-saham anyar.

Hal ini berbeda dengan beberapa tahun lalu, ketika hampir seluruh saham IPO mendapatkan tanggapan positif.

Saat ini, pemodal semakin memerhatikan mutu korporasi yang menawarkan sahamnya.

"Berbeda dengan beberapa tahun lalu ketika hampir semua IPO diminati, kini pasar mulai melakukan diferensiasi yang lebih jelas. Emiten dengan fundamental kuat, prospek bisnis yang solid, tata kelola yang baik, dan valuasi yang rasional akan tetap memperoleh respons positif," kata Edwin dari Sumbernya, Jumat (10/7/2026).

Menurut dari Sumbernya, korporasi yang sekadar mengandalkan cerita pertumbuhan tanpa didampingi hasil keuangan yang memadai justru akan menjumpai kendala lebih berat untuk menjaga performa sahamnya pasca-pencatatan di bursa.

Edwin memandang oversubscription sebaiknya dilihat sebagai penanda tingginya minat awal terhadap suatu saham, bukan sebagai kepastian bahwa saham tersebut bakal memberikan imbal hasil terbaik pasca-listing.

"Secara keseluruhan, oversubscription merupakan indikator bahwa permintaan awal terhadap suatu IPO sangat tinggi, tetapi bukan jaminan bahwa saham tersebut akan menjadi investasi terbaik dalam jangka panjang," ujarnya dari Sumbernya.

Edwin menambahkan, dalam mengambil ketetapan investasi, cara yang lebih bijak bagi pemodal adalah menjadikan angka oversubscribe sebagai salah satu sinyal pasar semata.

"Bagi investor, pendekatan yang lebih bijaksana adalah menjadikan angka oversubscription sebagai salah satu sinyal pasar, bukan sebagai dasar utama pengambilan keputusan. Pada akhirnya, nilai intrinsik perusahaan, kemampuan menghasilkan pertumbuhan laba yang berkelanjutan, dan kualitas eksekusi manajemen tetap menjadi faktor yang paling menentukan kinerja saham dalam jangka menengah hingga panjang," tutur Edwin dari Sumbernya.

Senada, Senior Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan oversubscription terjadi karena dasar perusahaan dipandang menarik, baik dari sisi kenaikan pemasukan, profitabilitas, prospek usaha, maupun kejelasan model bisnisnya.

Besarnya minat juga terpengaruh jika harga penawaran memberi celah apresiasi (upside) serta volume penawaran (free float) yang tergolong terbatas di bursa.

"Apabila pasokan saham relatif terbatas sementara permintaan tinggi, maka tingkat oversubscription dapat meningkat signifikan,” ujar Nafan dari Sumbernya, Jumat (10/7/2026).

Terkait dengan nama besar di belakang IPO seperti pada kasus saham RANS, Nafan memandang riwayat grup usaha yang kredibel memang mempermudah tahapan pemasaran awal, namun hal tersebut bukan merupakan unsur penentu utama di jangka panjang.

"Namun, apabila fundamental perusahaan kurang meyakinkan atau valuasinya terlalu mahal, nama besar saja biasanya tidak cukup untuk mempertahankan minat investor,” ucap dari Sumbernya.

Pergerakan harga pasca-listing pada akhirnya bakal kembali pada realisasi hasil keuangan, aksi korporasi, likuiditas transaksi, situasi bursa secara keseluruhan, serta kapasitas korporasi memenuhi harapan pemodal.

"Oversubscription dapat menjadi indikator awal bahwa minat pasar terhadap suatu IPO cukup tinggi, namun belum tentu menjamin kenaikan harga saham yang berkelanjutan. Dalam jangka menengah hingga panjang, faktor fundamental perusahaan tetap menjadi penentu utama terhadap kinerja sahamnya,” kata Nafan dari Sumbernya.

Terkini