IHSG Dibayangi Sentimen Global dan Ancaman Turun Kelas

Senin, 13 Juli 2026 | 11:39:08 WIB
IHSG mencatat kenaikan tipis 0,2% pada penutupan perdagangan Jumat (10/7). (Sumber Foto: NET)

JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada minggu ini diprediksi masih menjumpai desakan dari paduan sentimen lokal dan dunia.

Di dalam negeri, fokus pelaku pasar tertuju pada hasil pertemuan antara Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan S&P Dow Jones Indices (S&P DJI), yang sanggup memengaruhi pandangan investor terhadap pasar saham Tanah Air.

Sebagaimana dipahami, Indonesia bersama Turki telah masuk ke dalam daftar pengawasan S&P DJI.

Penyedia indeks dunia itu membuka kans untuk menurunkan posisi pasar modal Indonesia dari golongan emerging market menjadi frontier market, sehingga memicu sikap waspada di kalangan investor.

Dari sisi luar, pasar juga menanti peluncuran informasi Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk Juni 2026 yang dijadwalkan pada Selasa (14/7/2026).

Sebelumnya, inflasi AS pada Mei 2026 naik menjadi 4,2% secara tahunan dari 3,8% pada April, sehingga berpotensi memengaruhi prakiraan arah kebijakan bunga bank sentral AS.

Di tengah beragam sentimen tersebut, IHSG masih sanggup bertahan di area positif.

Sampai penutupan perdagangan Jumat (10/7), IHSG naik tipis 0,2% ke posisi 5.924,36.

Dalam satu minggu, indeks mencatat kenaikan sebesar 0,53%.

Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, dalam kurun waktu singkat IHSG masih punya peluang bergerak terbatas atau sideways.

Selain menanti kelanjutan dari S&P DJI, pasar juga bakal memerhatikan meningkatnya tensi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Menurut Hendra, peningkatan ketegangan tersebut berpotensi menaikkan premi risiko pasar, terutama kalau mengganggu ketersediaan energi dunia melewati Selat Hormuz.

Sementara itu, Tim Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia memprediksi IHSG bergerak volatil dengan kecenderungan sideways hingga bearish sepanjang minggu ini.

Secara teknikal, Kiwoom memprediksi IHSG memiliki area resistance pada rentang 5.950 hingga 5.987.

Namun, kalau indeks menembus ke bawah level 5.900, desakan jual berpotensi membawa IHSG menjajal area support di koridor 5.839 hingga 5.805.

Kiwoom juga menilai desakan terhadap IHSG bukan cuma berasal dari unsur geopolitik dunia, tetapi juga dari derasnya aliran keluar modal asing yang masih membayangi pasar saham Indonesia.

Meskipun begitu, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sekaligus praktisi pasar modal Budi Frensidy melihat masih ada beberapa unsur yang sanggup menyangga pergerakan IHSG.

Menurutnya, kenaikan ekonomi Indonesia yang masih terpelihara di atas 5%, penilaian harga saham yang makin menarik, hasil usaha perusahaan berkapitalisasi besar yang tetap kokoh, serta kenaikan harga komoditas dunia yang menguntungkan sektor energi dan pertambangan dapat menjadi penyangga pasar.

Budi menganjurkan investor tidak gegabah mengejar kenaikan harga saham dalam kurun waktu singkat.

Ia menganjurkan strategi akumulasi secara bertahap dengan fokus pada perusahaan yang mempunyai fundamental kokoh.

"Dalam situasi seperti sekarang, pemilihan saham lebih penting daripada sekadar menebak arah IHSG," ujar Budi dari Sumbernya.

Terkini