Program B50 Dongkrak Prospek Emiten Sawit, Cek Saham Pilihan

Senin, 13 Juli 2026 | 11:39:08 WIB
Presiden Prabowo meresmikan program mandat biodiesel B50 sebagai upaya mendukung industri kelapa sawit nasional. (Sumber Foto: NET)

JAKARTA - Pelaksanaan program mandat biodiesel B50 yang resmi dimulai pemerintah pada awal Juli 2026 diperkirakan menjadi faktor pendukung yang baik bagi sektor kelapa sawit dalam negeri.

Aturan ini diprediksi bakal menaikkan serapan crude palm oil (CPO) di tanah air, menjaga banderol tetap tinggi, sekaligus memperkuat prospek hasil usaha perusahaan sawit hingga akhir tahun.

Meskipun demikian, sejumlah kendala masih membayangi, mulai dari melambatnya permintaan internasional, aturan European Union Deforestation Regulation (EUDR), sampai potensi kenaikan hasil panen yang sanggup menekan harga CPO.

Presiden Prabowo Subianto secara resmi merilis program mandat biodiesel B50 pada Kamis (9/7/2026).

Penerapan kebijakan ini berpedoman pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 mengenai Pengusahaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati serta Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 perihal keharusan pencampuran biodiesel sejumlah 50% ke dalam minyak solar.

Seluruh entitas usaha bahan bakar nabati, entitas usaha bahan bakar minyak, dan entitas usaha penyalur diharuskan menjalankan pencampuran biodiesel sesuai patokan mutu yang telah diputuskan pemerintah.

Pemerintah juga menyediakan masa peralihan sampai 30 September 2026 bagi entitas usaha bahan bakar minyak untuk menghabiskan stok biodiesel B40.

Penilaian pelaksanaan kebijakan bakal dijalankan tiap tiga bulan oleh Kementerian ESDM.

Selain memacu peralihan energi, pelaksanaan B50 diprediksi menaikkan nilai tambah CPO dari Rp20,92 triliun menjadi sekitar Rp23,49 triliun.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty memprediksi pelaksanaan B50 bakal menaikkan pemakaian CPO dalam negeri sekitar 1 juta hingga 2 juta ton per tahun.

Kenaikan pemakaian tersebut diprediksi memperketat ketersediaan ekspor sehingga mampu menjaga harga CPO tetap tinggi.

Dampaknya, serapan maupun average selling price (ASP) perusahaan sawit berpotensi naik, walaupun tetap bergantung pada situasi produksi dunia dan harga minyak nabati lain.

Menurut dari Sumbernya, perusahaan yang paling diuntungkan adalah korporasi dengan jumlah produksi besar dan ongkos produksi murah, seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), serta PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).

Direktur PT Purwanto Asset Management Edwin Sebayang menilai program B50 adalah salah satu faktor pendukung struktural paling baik bagi industri sawit Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, kenaikan pemakaian dalam negeri akan membantu menurunkan stok CPO nasional, mengurangi beban kelebihan pasokan, serta menjaga stabilitas harga saat permintaan internasional melemah.

Perusahaan yang memiliki sarana penyulingan maupun biodiesel diprediksi memperoleh keuntungan lebih besar dibandingkan korporasi yang cuma menjual CPO mentah.

Edwin menilai perusahaan yang paling diuntungkan adalah SMAR karena memiliki usaha terintegrasi dari hulu hingga hilir serta kapasitas penyulingan yang besar.

Selain itu, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT), dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) juga dinilai prospektif berkat produktivitas kebun yang tinggi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memprediksi kebutuhan CPO dalam negeri setelah pelaksanaan B50 dapat naik menjadi sekitar 16 juta hingga 17 juta ton.

Menurutnya, saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), TAPG, AALI, dan SSMS berpotensi memperoleh manfaat dari aturan tersebut.

Untuk kuartal II 2026, para pakar memprediksi kinerja perusahaan CPO bakal lebih baik dibanding kuartal sebelumnya.

Pemicu utamanya berasal dari kenaikan harga CPO dunia yang menaikkan ASP, normalisasi hasil panen pasca musim panen awal tahun, serta menurunnya persediaan dunia.

Peluang pertumbuhan diprediksi masih berjalan pada semester II-2026, meski lajunya kemungkinan tidak sekuat semester I karena harga CPO telah berada di level tinggi dan terdapat potensi kenaikan hasil panen musiman.

Di balik peluang baik tersebut, sejumlah ancaman tetap perlu dicermati investor.

Melambatnya permintaan dari negara pembeli utama berpotensi menekan harga CPO.

Aturan EUDR juga masih menjadi kendala bagi ekspor sawit Indonesia.

Selain itu, penurunan harga minyak mentah dunia bisa mengurangi daya tarik biodiesel, sementara pelemahan ekonomi dunia berpotensi menekan konsumsi minyak nabati.

Ancaman lain berasal dari kenaikan hasil panen akibat situasi cuaca yang bagus maupun pergantian aturan ekspor dan bea di negara tujuan yang dapat memengaruhi harga CPO.

Edwin menilai prospek sektor CPO hingga akhir 2026 masih baik, meskipun tidak sekuat saat terjadi lonjakan harga beberapa tahun lalu.

Menurutnya, DSNG, SMAR, SSMS, serta AALI layak dicermati karena memiliki fundamental yang lumayan kuat, ongkos produksi bersaing, fokus pada hilirisasi, dan neraca keuangan yang sehat.

Sementara itu, Arinda memberikan anjuran beli untuk saham TAPG dengan sasaran harga Rp1.900 per saham dan AALI dengan sasaran harga Rp8.000 per saham.

Dari Sumbernya juga menilai perusahaan yang memiliki kebun berproduksi, ongkos produksi murah, serta neraca keuangan yang kuat berpeluang menjadi outperformer sepanjang 2026.

Intinya, pelaksanaan mandat B50 menjadi faktor pendukung penting bagi industri sawit nasional karena menaikkan serapan CPO dalam negeri sekaligus menopang harga.

Walaupun masih diperhadapkan pada berbagai ancaman dunia, prospek perusahaan sawit hingga akhir 2026 dinilai tetap baik dengan sejumlah saham seperti TAPG, AALI, SMAR, DSNG, dan SSMS menjadi pilihan utama para pakar.

Terkini