JAKARTA – Investor asing masih memborong saham BBCA kendati akumulasi di seluruh saham mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp689,3 miliar pada Rabu (8/7/2026).
Sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), justru menjadi incaran investor global di tengah koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Berdasarkan data perdagangan IPOT, BBCA menjadi saham dengan nilai beli bersih asing terbesar, yakni mencapai Rp251,9 miliar. Posisi berikutnya ditempati TLKM dengan beli bersih asing Rp41 miliar, disusul PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) Rp33,3 miliar, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Rp15,5 miliar, dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) Rp12,5 miliar.
Di sisi lain, saham yang paling banyak dilepas investor asing adalah PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) dengan nilai jual bersih mencapai Rp425,6 miliar. Aksi jual asing juga terjadi pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sebesar Rp142,2 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) Rp62,4 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) Rp59,6 miliar, serta PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) Rp21 miliar.
Secara keseluruhan, investor asing mencatatkan jual bersih Rp689,3 miliar di seluruh pasar. Aksi beli selektif pada saham-saham blue chip tersebut terjadi ketika IHSG ditutup melemah 1,89% ke level 5.873,37.
Tekanan di pasar saham domestik dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor setelah S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) memasukkan Indonesia ke dalam 2027 Country Classification Watchlist. Langkah tersebut membuka peluang penurunan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market apabila isu transparansi kepemilikan saham dan likuiditas pasar tidak menunjukkan perbaikan hingga evaluasi tahun depan.
Dalam dokumen yang dirilis Rabu (8/7/2026), S&P DJI menyatakan terus memantau implementasi berbagai kebijakan Bursa Efek Indonesia terkait peningkatan transparansi kepemilikan saham. Penyedia indeks global itu juga membuka kemungkinan penerapan special measures terhadap saham-saham Indonesia apabila kondisi dinilai memburuk.
Sentimen negatif dari S&P DJI diperparah oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari yang sama membatalkan kesepakatan damai yang diteken pada pertengahan Juni 2026 menyusul kembali memanasnya konflik di Selat Hormuz.
Eskalasi tersebut mendorong harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 6% ke kisaran US$73-US$78 per barel, sementara nilai tukar rupiah tertekan hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS. Dari dalam negeri, perlambatan Indeks Keyakinan Konsumen Juni turut menambah tekanan terhadap sentimen pasar.