Balik Laba di Kuartal Satu, Intip Prospek dan Rekomendasi Saham KAEF

Kamis, 09 Juli 2026 | 10:37:21 WIB
Ilustrasi: PT Kimia Farma mencatat laba Rp123,6 miliar pada kuartal I-2026, membalikkan rugi tahun sebelumnya. (Foto: NET)

JAKARTA – PT Kimia Farma Tbk (KAEF) membuka tahun 2026 dengan performa yang lebih baik setelah mencatatkan laba sebesar Rp123,6 miliar pada kuartal I-2026. Capaian ini merupakan pembalikan dari kondisi rugi sebesar Rp126,4 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Analis menilai pembalikan kinerja ini sebagai sinyal awal pemulihan, namun konsistensi tetap menjadi faktor penentu hingga akhir tahun. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menyatakan bahwa transformasi yang dilakukan perusahaan mulai menunjukkan hasil.

"Perbaikan laba pada kuartal I menunjukkan transformasi mulai membuahkan hasil. Namun, konsistensi kinerja pada kuartal berikutnya tetap diperlukan agar pemulihan berkelanjutan," ujarnya, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Senada dengan hal tersebut, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyebut pembalikan laba ini sebagai langkah awal yang memerlukan konfirmasi lebih lanjut. "Pembalikan laba di kuartal I-2026 adalah milestone penting namun perlu dikonfirmasi minimal dua kuartal lagi," jelasnya, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Abida menilai prospek kinerja KAEF pada sisa tahun 2026 cenderung moderat positif berkat normalisasi operasional dan pemulihan volume obat generik berlogo dari program Jaminan Kesehatan Nasional. Menurutnya, target pertumbuhan pendapatan dobel digit tahun 2026 akan realistis jika efisiensi pada kuartal pertama dapat dipertahankan secara konsisten.

KAEF berencana meluncurkan produk terapi penyakit kronis serta mengembangkan segmen non-farmasi sebagai strategi pertumbuhan jangka menengah. Azis menyebut langkah ini berpotensi meningkatkan pendapatan sekaligus margin bagi perusahaan.

"Produk terapi penyakit kronis dan non-farma berpotensi meningkatkan pendapatan serta margin karena permintaannya stabil dan memiliki nilai tambah lebih tinggi, meski kontribusinya masih bertahap," ujarnya, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Integrasi layanan klinik diagnostik juga dinilai dapat memperkuat ekosistem bisnis melalui peningkatan cross-selling dan basis pelanggan. "Strategi ini dapat memperkuat ekosistem bisnis KAEF melalui peningkatan cross-selling, basis pelanggan, dan pendapatan berulang, dengan catatan eksekusinya berjalan efektif," jelas Azis, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Kendati demikian, tantangan seperti tekanan harga obat BPJS Kesehatan, pelemahan nilai tukar rupiah, dan ketergantungan bahan baku impor masih membayangi. Abida menyebut fundamental KAEF saat ini masih berada dalam fase pemulihan.

"Masih dalam fase pemulihan, belum sepenuhnya kokoh. Risiko utama datang dari ketergantungan 90% bahan baku impor terhadap pelemahan rupiah," ujarnya, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Azis menambahkan bahwa efisiensi dan pengembangan produk bernilai tambah menjadi kunci menjaga kinerja. "Fundamental membaik, tetapi tekanan dari pelemahan rupiah, harga obat BPJS, dan impor bahan baku masih menjadi tantangan. Efisiensi dan peningkatan produk bernilai tambah menjadi kunci," katanya, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Terkait rekomendasi, Kiwoom Sekuritas memberikan peringkat trading buy pada saham KAEF. Target harga ditetapkan pada Rp466 per saham dengan level support di kisaran Rp440–Rp438.

Terkini