IPO Bursa Efek Indonesia Meningkat, Ternyata Ini Alasan Utamanya

Rabu, 08 Juli 2026 | 10:45:53 WIB
Ilustrasi: Enam perusahaan dijadwalkan melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia pada pekan pertama Juli 2026. (Gambar: NET)

JAKARTA – Panggung pasar modal Indonesia kembali menunjukkan aktivitas yang signifikan setelah sempat sepi peminat. Sebanyak enam perusahaan dijadwalkan mencatatkan saham perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia pada pekan ini.

Emiten-emiten tersebut meliputi PT Rans Entertainment Indonesia Tbk., PT Bach Multi Global Tbk., PT Nitrasanata Dharma Tbk., PT Esa Medika Mandiri Tbk., PT Prodia Diagnostic Line Tbk., dan PT Niramas Utama Tbk. Masa pencatatan saham mereka dijadwalkan berlangsung antara 7 hingga 10 Juli 2026.

Meski demikian, aktivitas IPO sepanjang semester I/2026 tercatat cukup lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jumlah emiten yang melantai di bursa terus menurun, yakni dari 79 perusahaan pada 2023 menjadi 41 pada 2024, dan tersisa 26 pada 2025.

Target Bursa Efek Indonesia untuk menjaring 50 IPO baru sepanjang 2026 masih menghadapi tantangan besar. Otoritas Jasa Keuangan mencatat terdapat dua perusahaan lain yang sedang mengantre untuk melantai di bursa dengan perkiraan dana yang dihimpun mencapai Rp140 miliar.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan Hasan Fawzi mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada 7 perusahaan yang menawarkan sahamnya ke publik dengan total dana Rp2,16 triliun, sebagaimana dilansir dari sumber berita. Secara keseluruhan, terdapat 11 rencana penawaran umum dalam daftar tunggu dengan potensi dana mencapai Rp15,84 triliun.

“Hingga Juni 2026, nilai fundraising oleh korporasi di pasar modal telah mencapai angka Rp112,67 triliun dan masih terdapat 11 rencana penawaran umum di dalam pipeline,” ujar Hasan sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Di sisi lain, analis dari Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menilai bahwa masih terlalu dini menganggap fenomena ini sebagai tanda pemulihan tren. Menurutnya, hal tersebut lebih terlihat sebagai pergeseran strategi pendanaan perusahaan dari ekuitas ke utang.

“IPO hanya menyumbang Rp2,16 triliun melalui pencatatan 7 emiten baru, sementara total penghimpunan dana pasar modal Rp112,67 triliun justru didominasi obligasi dan sukuk sebesar Rp89,51 triliun. Artinya, korporasi tetap mencari dana, tapi lewat instrumen utang, bukan ekuitas,” jelas Audi sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Audi menambahkan bahwa minat IPO saat ini dipicu oleh tingginya biaya pendanaan melalui pinjaman akibat suku bunga tinggi, sehingga emisi ekuitas menjadi pilihan yang lebih logis. Namun, pemulihan tren pasar yang sebenarnya baru bisa dipastikan jika indeks harga saham gabungan bergerak stabil dan investor asing mulai kembali melakukan aksi beli.

Terkait kualitas emiten, investor saat ini cenderung lebih selektif dan memprioritaskan perusahaan dengan pertumbuhan pendapatan yang jelas serta penggunaan dana yang produktif. Preferensi investor defensif ini terlihat dari dominasi emiten sektor kesehatan dan barang konsumen primer.

“Lami juga melihat adanya pola sektor lain menunda IPO sangat nyata. Hal ini seiring terkanan valuasi di era suku bunga tinggi karena jika memaksakan juga diartikan menerima valuasi yang lebih rendah dari potensi emiten,” tutur Audi sebagaimana dilansir dari sumber berita.

CEO PT Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya berpendapat bahwa sektor barang konsumen dan ritel masih sangat prospektif karena model bisnisnya yang mudah dipahami masyarakat. Sebaliknya, sektor teknologi dianggap lebih menantang untuk melakukan IPO saat ini.

"Consumer goods dan ritel merupakan sektor yang tidak ada habisnya. Produknya dekat dengan masyarakat sehingga lebih mudah menarik minat investor," ucap Bernadus sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Bernadus menambahkan bahwa investor kini lebih memilih sektor yang menawarkan kepastian kinerja serta arus kas yang kuat. “Dalam kondisi suku bunga tinggi, investor cenderung mencari sektor yang memberikan kepastian, sehingga sektor teknologi masih relatif lebih menantang dibandingkan dengan sektor konsumer,” ujar Bernadus sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Terkini