Wall Street Kompak Melemah Akibat Aksi Jual Saham Chip dan AI

Rabu, 08 Juli 2026 | 10:30:54 WIB
Ilustrasi: Wall Street ditutup melemah akibat aksi jual saham chip dan kecerdasan buatan. (Gambar: NET)

NEW YORK – Bursa saham Wall Street kompak ditutup melemah pada perdagangan Selasa (7/7/2026) waktu setempat. Penurunan ini didorong oleh aksi jual saham kecerdasan buatan (AI) dan produsen chip, di tengah kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 130,76 poin (0,25 persen) ke level 52.925,15, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa intraday. Sementara itu, Nasdaq Composite turun 1,16 persen ke posisi 25.818,69 dan S&P 500 melemah 0,45 persen menjadi 7.503,85.

Aksi jual paling signifikan melanda sektor semikonduktor, di mana saham Micron Technology merosot 4,7 persen. Pelemahan serupa dialami KLA Corp, Marvell Technology, Broadcom, serta Advanced Micro Devices (AMD), sementara ETF VanEck Semiconductor turun lebih dari 3 persen.

Direktur Riset FBB Capital Partners, Mike Bailey, menilai ekspektasi investor terhadap sektor AI saat ini telah melampaui fundamental perusahaan. "Harapan pasar sudah sangat tinggi, sementara fundamental belum mampu memenuhi ekspektasi tersebut. Itulah yang memicu pelemahan hari ini," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Bailey menambahkan bahwa tren rotasi investasi dari saham AI ke sektor lain kemungkinan masih akan terus berlanjut. Investor kini cenderung mengalihkan dana ke sektor yang lebih defensif, seperti kesehatan, keuangan, serta perusahaan teknologi berkapitalisasi besar.

Saham Eli Lilly mencatatkan penguatan hampir 3 persen, diikuti kenaikan pada saham JPMorgan Chase, Microsoft, serta Walmart. Walmart menguat setelah mengumumkan pemangkasan harga pada sejumlah produk seperti daging sapi giling dan minuman Coca-Cola.

Pasar energi turut memberikan tekanan setelah harga minyak melonjak akibat serangan terhadap kapal tanker LNG Qatar di dekat Selat Hormuz. Minyak mentah Brent ditutup naik 3 persen ke US$ 74,16 per barel, sedangkan WTI menguat hampir 3 persen menjadi US$ 70,44 per barel.

Kenaikan harga minyak dipicu pula oleh langkah pemerintah Amerika Serikat yang mencabut izin penjualan minyak Iran. Selain itu, sentimen negatif merambat dari Asia, di mana indeks Kospi Korea Selatan anjlok hampir 5 persen menyusul penurunan saham Samsung Electronics sebesar 7 persen.

Meskipun Samsung melaporkan kenaikan laba kuartal II, investor tetap mengkhawatirkan prospek permintaan di industri chip. Di sisi lain, indeks Stoxx 600 di Eropa juga ditutup melemah sekitar 0,7 persen.

Analis Vital Knowledge, Adam Crisafulli, mengungkapkan bahwa musim laporan keuangan kuartal II akan menjadi tantangan tersendiri bagi pasar. "Secara absolut, kinerja emiten kemungkinan tetap kuat. Namun, ekspektasi investor saat ini sangat tinggi sehingga ruang untuk mengecewakan pasar juga semakin besar," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Informasi lain menyebutkan bahwa perusahaan AI asal China, DeepSeek, sedang mengembangkan chip AI sendiri guna mengurangi ketergantungan pada pemasok seperti Nvidia dan Samsung. Sementara itu, saham SpaceX terkoreksi lebih dari 6 persen pada debutnya di indeks Nasdaq-100.

Bailey menuturkan bahwa penurunan saham SpaceX menunjukkan sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko. Hal ini terutama berlaku bagi perusahaan yang memiliki ketergantungan besar terhadap bisnis AI.

Terkini