Optimisme Tren AI Dorong Bursa Asia Bergerak di Zona Hijau

Selasa, 07 Juli 2026 | 11:03:12 WIB
Ilustrasi: Bursa saham Asia bergerak menguat didorong optimisme tren kecerdasan buatan (AI). (Foto: NET)

JAKARTA – Bursa saham di Asia bersiap bergerak menguat tipis setelah reli sejumlah saham raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) membangkitkan kepercayaan pasar bahwa tren penguatan yang digerakkan oleh sektor kecerdasan buatan (AI) masih memiliki ruang untuk melaju. Kontrak berjangka indeks saham mengindikasikan pembukaan pasar yang positif di Tokyo dan Hong Kong.

Sektor semikonduktor serta Indeks Kospi di Korea Selatan diprediksi menjadi pusat perhatian utama hari ini, menyusul rilis laporan laba Samsung Electronics Co yang melampaui estimasi pasar. Selain itu, langkah SK Hynix Inc yang memulai proses pemasaran formal untuk pencatatan saham perdana di bursa AS turut menjadi sorotan.

Sentimen investor di Asia terdongkrak oleh pemulihan saham teknologi di Wall Street, di mana indeks S&P 500 ditutup naik 0,7 persen dan indeks Nasdaq 100 melesat 1,3 persen. Indeks acuan untuk produsen cip di AS juga menanjak 2,2 persen, sekaligus memutus tren penurunan selama dua hari berturut-turut.

Di sektor komoditas, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tertahan dalam tren pelemahan akibat indikasi kelebihan pasokan yang kian nyata. Kondisi ini dipicu oleh kebijakan Arab Saudi yang memangkas harga jual minyak serta aktivitas lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz yang kian padat.

Di sisi lain, surat utang pemerintah AS jangka pendek bergerak naik tipis, sementara nilai tukar yen stabil di kisaran 162,08 per dolar AS. Padahal, dana lindung nilai mencatatkan posisi paling negatif terhadap mata uang Jepang tersebut sejak tahun 2007.

Fluktuasi tajam yang melanda saham teknologi dalam beberapa pekan terakhir membuat investor mencari validasi prospek bisnis AI ke depan. Walaupun saham semikonduktor mencatatkan kuartal terbaik dalam sejarah, volatilitas pasar meningkat karena spekulasi mengenai persaingan ketat, potensi kelebihan kapasitas produksi, serta hasil nyata dari investasi besar yang telah digelontorkan.

Menurut tim analis BlackRock Investment Institute (BII) yang dipimpin oleh Jean Boivin, perdebatan saat ini bukan lagi mengenai valuasi harga, melainkan apakah pertumbuhan laba masa depan bisa bertahan di level tinggi.

"Apakah kami sedang berada dalam gelembung (bubble) AI? Kami menilai jawabannya sangat bergantung pada kemampuan AI untuk mengubah kelangkaan hari ini menjadi kelimpahan di masa depan," sebagaimana dilansir dari sumber berita. "Pasar kian gencar memperhitungkan potensi hasil tersebut, dengan harapan bahwa AI mampu mendongkrak produktivitas dan pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat demi mempertahankan kinerja laba luar biasa yang ada saat ini," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Pihak BII menekankan bahwa kunci utamanya adalah keberlanjutan kinerja laba dalam jangka panjang, bukan sekadar melihat valuasi historis. Jika berkaca pada margin keuntungan perusahaan yang masih tinggi, target tersebut dinilai masih mungkin dicapai.

"Minggu ini, para investor akan mencari sinyal apakah volatilitas yang terjadi pada saham teknologi baru-baru ini mulai menunjukkan tanda-tanda stabil," sebagaimana dilansir dari sumber berita. "Pasar juga akan menilai apakah tekanan yang melanda saham perusahaan penyedia layanan komputasi awan skala besar (hyperscaler) baru-baru ini bakal mengubah arah proyeksi belanja modal di sektor AI," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Fokus pasar Asia tertuju pada rilis kinerja keuangan Samsung yang laba kuartalannya meroket 19 kali lipat, jauh di atas ekspektasi pasar akibat lonjakan permintaan cip memori untuk pusat data AI. Produsen memori tersebut mencatatkan estimasi laba operasional awal sebesar 89,4 triliun won dalam periode tiga bulan yang berakhir pada Juni, mengalahkan akumulasi performa kinerja Samsung sepanjang tahun 2025. Sebelumnya, analis rata-rata memproyeksikan laba operasional berada di kisaran 84,2 triliun won.

Terkini