JAKARTA – Prospek sektor perbankan Indonesia diperkirakan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat di masa mendatang. Analis Sucor Sekuritas, Edward Lowis dan Karen Chow, memangkas proyeksi laba, target harga, serta menurunkan rekomendasi sejumlah saham bank karena tekanan margin bunga bersih (NIM) yang kian meningkat.
Dalam riset bertajuk A Tougher Cycle for Margins and Multiples yang diterbitkan pada 3 Juli 2026, Sucor Sekuritas menilai era suku bunga tinggi yang bertahan lama telah mengubah prospek industri perbankan. Imbal hasil instrumen bebas risiko yang tetap tinggi, dipimpin oleh Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), mendorong kenaikan biaya pendanaan bank, terutama untuk dana institusi dan deposito bernilai besar.
Pelemahan rupiah turut meningkatkan risiko inflasi impor sekaligus membuka peluang kenaikan suku bunga kebijakan. Kondisi tersebut menekan daya beli masyarakat dan berpotensi mengurangi kemampuan debitur dalam membayar pinjaman.
Sucor memperkirakan biaya dana akan terus meningkat sepanjang 2026-2027, sementara penyesuaian bunga kredit berlangsung lebih lambat. Margin bunga bersih diperkirakan terus menyempit, terutama pada bank dengan porsi dana murah (CASA) rendah serta ketergantungan tinggi terhadap deposito berjangka dan kredit berbunga tetap.
Tekanan terhadap NIM menjadi alasan utama revisi proyeksi kinerja tersebut. Sucor memangkas estimasi laba bank besar dalam cakupannya sebesar 13 persen untuk 2026 dan 20 persen untuk 2027, dengan risiko penurunan lebih besar pada 2027 saat repricing deposito berlangsung penuh.
Sejalan dengan hal itu, proyeksi NIM diturunkan sebesar 21 basis poin untuk 2026 dan 38 basis poin pada 2027. Proyeksi pertumbuhan kredit direvisi menjadi 5-7 persen pada 2026 dan 6-8 persen pada 2027, lebih rendah dari estimasi sebelumnya sebesar 8-10 persen.
Revisi tersebut mencerminkan kondisi likuiditas yang lebih ketat, permintaan kredit yang melambat, serta sikap perbankan yang lebih berhati-hati. Sucor juga menaikkan asumsi biaya kredit karena bank diperkirakan memperkuat pencadangan guna mengantisipasi potensi memburuknya kualitas aset.
Valuasi saham bank mungkin terlihat murah dari rasio price-to-book maupun price-to-earnings, namun patokan valuasi yang wajar kini telah bergeser lebih rendah. Sucor memangkas target harga saham perbankan dalam cakupannya rata-rata 26 persen.
Revisi tersebut didasarkan pada kenaikan asumsi tingkat bebas risiko dalam model valuasi menjadi 7,5-8,0 persen, atau sekitar 120-160 basis poin lebih tinggi dari sebelumnya. Perubahan itu turut meningkatkan biaya ekuitas sebesar 157-282 basis poin sehingga ruang kenaikan valuasi saham dinilai terbatas.
Di tengah tekanan tersebut, Sucor menjadi lebih selektif dalam memilih saham. “Kami menjadi lebih selektif terhadap sektor perbankan karena prospek pertumbuhan laba dalam jangka pendek dinilai tidak lagi semenarik sebelumnya. Kenaikan biaya pendanaan, perlambatan pertumbuhan kredit, serta meningkatnya risiko kredit diperkirakan akan membatasi pertumbuhan laba sekaligus mengurangi potensi kenaikan valuasi saham,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Analis tetap menjagokan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai pilihan defensif berkat basis dana murah yang kuat, margin yang lebih resilien, serta kualitas aset yang solid. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) masih menjadi pilihan utama untuk pertumbuhan jangka panjang.
Sucor menilai posisi BRIS sebagai bank syariah terbesar di Indonesia dengan model bisnis berlisensi ganda, ditambah peluang ekspansi bisnis bullion banking, memberikan prospek pertumbuhan yang lebih menarik. Sebaliknya, Sucor menurunkan rekomendasi BBRI, BMRI, BBNI, BBTN, dan BNGA menjadi hold.