JAKARTA – Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau masih berfluktuasi pada kisaran Rp 17.900 per dolar AS. Laju mata uang Garuda tetap dibayangi oleh kombinasi sentimen eksternal serta domestik yang berpotensi memperpanjang volatilitasnya.
Pada perdagangan Jumat (3/7), rupiah di pasar spot menguat 0,18 persen ke posisi Rp 17.963 per dolar AS dari hari sebelumnya di level Rp 17.995 per dolar AS. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai performa positif ini dipicu perpaduan aspek global maupun domestik.
"Pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi sentimen global, terutama arah kebijakan suku bunga The Fed dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Fokus pasar kini terarah pada negosiasi antara AS dengan Iran, meski terdapat laporan mengenai penolakan terkait Selat Hormuz oleh pihak Teheran.
Di sisi lain, pelemahan dolar AS dipicu oleh data sektor ketenagakerjaan AS yang berada di bawah ekspektasi pasar. Ekonomi AS hanya mampu mencetak 57.000 lapangan kerja baru di bulan Juni, jauh merosot dari prediksi pasar sebesar 110.000.
Ibrahim menilai data ini mengonfirmasi anggapan bahwa celah bagi Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga kian menyusut. Merujuk pada CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September nanti melorot ke angka 51 persen dari sebelumnya 63 persen.
Dari sisi domestik, melambatnya pertumbuhan penerimaan pajak penghasilan berisiko memengaruhi pandangan pelaku pasar mengenai potret fiskal di Indonesia. Laporan OECD mencatat realisasi penerimaan pajak penghasilan, laba, dan keuntungan modal tahun 2024 terkumpul Rp 1.061,94 triliun, tumbuh tipis 0,07 persen dari tahun sebelumnya.
Penurunan ini didominasi oleh koreksi pajak penghasilan badan dari Rp 829,66 triliun pada 2023 menjadi Rp 818,30 triliun pada 2024. "Meski mulai melambat, pajak penghasilan masih menjadi salah satu sumber utama penerimaan negara," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Ibrahim mengestimasi nilai tukar rupiah untuk pekan depan akan bergerak di rentang Rp 17.850 sampai Rp 18.100 per dolar AS. Pelaku pasar akan terus memonitor kebijakan moneter The Fed, situasi geopolitik, serta indikator fundamental ekonomi Indonesia.