JAKARTA – Bursa saham tanah air saat ini tengah mengalami penurunan harga yang cukup signifikan sehingga dinilai berada pada level yang murah. Tersedia 9 saham andalan untuk paruh kedua tahun 2026 yang memiliki peluang pertumbuhan harga berkisar antara 26 persen hingga 66 persen, mulai dari saham BBRI sampai PANI.
Berdasarkan penjelasan Kiwoom Sekuritas Indonesia, price to earnings ratio (PER) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terhitung rendah pada posisi 13,1 kali di penghujung Juni 2026, jika dibandingkan dengan rata-rata lima tahunan di kisaran 16 kali. Imbal hasil atau return IHSG tercatat terkoreksi sebesar 39,1 persen secara year to date (ytd) sampai dengan 29 Juni.
Kemerosotan ini menempatkan IHSG ke dalam jajaran indeks utama dunia yang membukukan performa paling lemah secara global. Di sisi lain, laju pertumbuhan PDB riil menembus angka 5,61 persen pada triwulan I-2026, yang menjadikannya tetap bertahan sebagai salah satu pertumbuhan paling progresif di Asia.
Kendati demikian, pemodal internasional masih gencar melakukan aksi pelepasan saham di bursa domestik dengan total net sell investor asing secara year to date (ytd) hingga 29 Juni menembus Rp 86,8 triliun. Rupiah pun sempat menyentuh titik terlemah sepanjang sejarah di posisi Rp 18.190 per dolar AS pada 8 Juni, sementara IHSG merosot di bawah level psikologis 6.000 pada akhir Juni.
"Isu utama saat ini bukan semata apakah IHSG akan naik 10 persen atau turun 10 persen pada semester II-2026. Pertanyaannya, apa yang dapat mengubah diskon valuasi pasar saham Indonesia menjadi re-rating yang nyata?" sebagaimana dilansir dari sumber berita. Istilah re-rating merujuk pada peningkatan penilaian yang diberikan pelaku pasar atas suatu instrumen aset atau kondisi pasar secara menyeluruh.
Menurut Kiwoom Sekuritas, terdapat lima fase krusial agar proses re-rating terwujud, yakni reliabilitas kebijakan, keterjangkauan pasar, tata kelola, pergerakan modal, dan inovasi. "Jika lima aspek tersebut membaik, re-rating akan mengikuti. Jika tidak, valuasi murah hanya akan tetap murah, bahkan dalam waktu yang sangat panjang," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Pihak Kiwoom Sekuritas memproyeksikan target pergerakan IHSG di penghujung tahun 2026 akan bertengger pada level 7.250-7.700. Estimasi ini disusun dengan asumsi indeks akan berhasil breakout dari area tren penurunan pada akhir bulan Juli, didukung oleh siklus musiman yang secara historis positif.
Berikut adalah 9 emiten saham yang diposisikan siap menangkap momentum peluang re-rating dengan potensi kenaikan 26 persen sampai dengan 66 persen:
Vale Indonesia (INCO): Target harga Rp 6.300, potensi kenaikan 37,5 persen.
Antam (ANTM): Target harga Rp 4.800, potensi kenaikan 63,8 persen.
Pantai Indah Kapuk Dua (PANI): Target harga Rp 9.925, potensi kenaikan 66 persen.
Bank Rakyat Indonesia (BBRI): Target harga Rp 3.600, potensi kenaikan 32,8 persen.
Dayamitra Telekomunikasi (MTEL): Target harga Rp 705, potensi kenaikan 43,8 persen.
Jasa Marga (JSMR): Target harga Rp 3.850, potensi kenaikan 40,5 persen.
Japfa Comfeed Indonesia (JPFA): Target harga Rp 3.140, potensi kenaikan 54,6 persen.
Kalbe Farma (KLBF): Target harga Rp 970, potensi kenaikan 29,3 persen.
Bank Negara Indonesia (BBNI): Target harga Rp 4.100, potensi kenaikan 26 persen.