Morgan Stanley Ubah Strategi ke Saham Energi Defensif Eropa

Minggu, 05 Juli 2026 | 10:36:38 WIB
Ilustrasi: Morgan Stanley menaikkan peringkat saham Galp dengan strategi lebih defensif di sektor energi Eropa. (Foto: NET)

JAKARTA – Morgan Stanley kini menerapkan sikap lebih defensif terhadap saham sektor energi berkapitalisasi menengah di Eropa. Bank investasi ini meningkatkan peringkat Galp asal Portugal, sembari tetap menjaga pandangan berhati-hati terhadap Repsol dari Spanyol dan OMV dari Austria.

Keputusan ini didorong oleh keyakinan bahwa investor sebaiknya bersiap menghadapi lingkungan harga komoditas yang cenderung lebih lemah setelah reli sepanjang tahun ini. Perusahaan pialang tersebut menyatakan sedang kembali ke strategi defensif karena memperkirakan harga minyak mentah Brent akan turun mendekati angka $70 per barel setelah tahun 2026.

Langkah ini menjadikan perusahaan dengan arus kas tangguh, kebutuhan belanja modal lebih rendah, serta neraca keuangan kuat menjadi lebih menarik dibandingkan perusahaan yang bergantung pada margin kilang atau pemulihan siklikal. Morgan Stanley menaikkan peringkat Galp menjadi "Overweight" dari sebelumnya "Equal-weight" dengan target harga naik ke 21,40 euro dari 18,70 euro.

Bank ini menilai pertumbuhan produksi minyak, penurunan belanja modal, dan berkurangnya leverage memungkinkan Galp mempertahankan imbal hasil bagi pemegang saham meski harga minyak mentah melemah. Selain itu, potensi restrukturisasi bisnis hilir Galp dipandang sebagai katalis yang mampu mendukung pembayaran kepada pemegang saham di masa depan.

Di sisi lain, bank tersebut tetap memberikan peringkat "Equal-weight" untuk saham Repsol dan OMV. Bagi Repsol, Morgan Stanley menilai potensi kenaikan dari margin kilang yang lebih kuat sebagian besar sudah tercermin dalam harga sahamnya.

Saham Repsol dinilai kurang defensif dibandingkan Galp jika harga komoditas mengalami penurunan dalam beberapa tahun mendatang. Sementara itu, untuk OMV, bank tersebut tetap berhati-hati karena akuisisi bisnis kimia yang dilakukan grup asal Austria ini dinilai sudah terserap pasar, sehingga investor masih menantikan arah strategis di bawah kepemimpinan baru.

Morgan Stanley belum menemukan katalis jangka pendek yang memadai atau pemulihan berkelanjutan di pasar bahan kimia untuk memberikan pandangan yang lebih konstruktif. Perubahan posisi ini mencerminkan preferensi bank terhadap perusahaan energi yang mampu menjaga dividen serta program pembelian kembali saham dalam kondisi makroekonomi yang melemah.

Terkait Galp, perusahaan pialang ini memproyeksikan produksi akan meningkat menjadi sekitar 139.000 barel setara minyak per hari pada 2027 dari posisi saat ini di 111.000 barel, berkat kontribusi proyek Bacalhau di Brasil. Hal tersebut diharapkan dapat membantu menekan utang bersih sekaligus menopang pertumbuhan dividen perusahaan.

Untuk Repsol, bank tersebut memperkirakan margin kilang akan tetap mendukung hingga tahun 2026, namun keberlanjutan imbal hasil pemegang saham akan bergantung pada harga komoditas dan inisiatif spesifik perusahaan. Sementara pada OMV, investor diperkirakan akan fokus pada bisnis kimia serta integrasi Borouge Group International, dengan risiko penurunan utama yang berasal dari pelemahan berkepanjangan pada margin kimia.

Terkini