Harga Kontrak CPO Melemah Dipicu Penguatan Ringgit dan Lesunya Pasar India

Sabtu, 04 Juli 2026 | 13:19:07 WIB
Ilustrasi: Harga kontrak CPO di Bursa Malaysia melemah selama dua minggu berturut-turut pada awal Juli 2026. (Foto: NET)

JAKARTA – Nilai kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mencatatkan penurunan kembali pada Jumat (3/7/2026), yang sekaligus menjadi penurunan selama dua minggu berturut-turut.

Pelemahan ini dipicu oleh penguatan mata uang ringgit serta penurunan nilai minyak nabati di Bursa Dalian, China, yang menekan sentimen para pelaku pasar.

Berdasarkan data penutupan BMD Jumat (3/7/2026), kontrak berjangka CPO untuk periode Juli 2026 berkurang 6 ringgit Malaysia menjadi 4.439 ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak berjangka CPO untuk Agustus 2026 melemah 20 ringgit Malaysia menjadi 4.458 ringgit Malaysia per ton.

Di sisi lain, kontrak berjangka CPO untuk September 2026 mengalami koreksi sebesar 26 ringgit Malaysia menjadi 4.480 ringgit Malaysia per ton.

Kontrak berjangka CPO untuk Oktober 2026 jatuh sebesar 27 ringgit Malaysia ke level 4.505 ringgit Malaysia per ton.

Selanjutnya, kontrak berjangka CPO untuk November 2026 berkurang sebesar 27 ringgit Malaysia menjadi 4.533 ringgit Malaysia per ton.

Kontrak berjangka CPO untuk Desember 2026 turut melemah 27 ringgit Malaysia menjadi 4.559 ringgit Malaysia per ton.

Menurut laporan Tradingview, transaksi perdagangan berjalan terbatas karena pasar Chicago tutup untuk merayakan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (AS).

Para pelaku pasar terlihat berhati-hati sambil menanti data penting mengenai suplai dan permintaan minyak nabati yang akan dirilis pekan depan.

Secara mingguan, harga jual CPO diperkirakan turun sekitar 1,5 persen, yang menjadi tren penurunan selama dua minggu berturut-turut.

Pemicu utama penurunan adalah berkurangnya angka permintaan dari India, yang merupakan negara pengimpor minyak kelapa sawit terbesar di dunia.

Laporan mencatat bahwa volume impor minyak sawit India pada Juni turun ke level terendah dalam 14 bulan terakhir.

Penurunan ini disebabkan oleh rendahnya penyerapan di pasar domestik India serta kecilnya perbedaan harga antara CPO dan minyak nabati pesaing, sehingga mengurangi minat beli.

Namun, laju penurunan harga CPO sedikit terhambat oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang meningkatkan daya saing biodiesel berbasis sawit, serta membaiknya permintaan ekspor.

Data lembaga survei kargo menunjukkan volume ekspor minyak sawit Malaysia pada periode 1–25 Juni meningkat antara 10,6 persen dan 11,1 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan Mei.

Sentimen positif lainnya datang dari Indonesia, di mana program mandatori biodiesel B50 telah resmi dijalankan sejak 1 Juli 2026.

Regulasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan konsumsi minyak sawit di pasar domestik, sehingga memperkuat prospek permintaan global dalam jangka menengah.

Meskipun masih ditekan oleh melemahnya serapan dari India, pasar tetap mencermati potensi kenaikan konsumsi dari industri biodiesel serta pemulihan ekspor sebagai pendukung harga CPO di masa depan.

Terkini