JAKARTA – Emiten kosmetik Grup Martha Tilaar, PT Martina Berto Tbk. (MBTO), optimistis prospek industri kecantikan tetap kokoh meski daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. Perseroan menilai fenomena lipstick effect serta kesadaran publik terhadap kesehatan dan kecantikan akan menjaga permintaan tetap tinggi.
Lipstick effect merupakan kecenderungan konsumen membeli barang kecil yang memberikan kenyamanan saat ekonomi sulit. Produk tersebut umumnya bukan kebutuhan pokok, namun memiliki harga yang terjangkau.
Direktur Utama Martina Berto, Bryan David Emil, menyatakan perseroan berupaya memperkuat portofolio untuk menangkap peluang tersebut. "Lipstick effect bisa saja bersifat sementara, tetapi juga bisa berlangsung lebih panjang. Kami selalu ingin mengambil peluang itu," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Industri kecantikan dinilai telah menjadi kebutuhan primer bagi perempuan dengan potensi pertumbuhan rata-rata 7% hingga 9% setiap tahun. Ekspansi pasar masih terbuka lebar, khususnya di wilayah luar Pulau Jawa.
"Prospek industri kecantikan sangat baik. Konsumen tetap memiliki daya beli meski tidak luar biasa. Selain itu, masyarakat semakin sadar akan pentingnya beauty dan wellness, didukung berkembangnya pengalaman berbelanja secara online maupun offline, serta pertumbuhan ritel modern dan general trade," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Manajemen melihat segmen kosmetik dan perawatan diri pria sebagai sumber pertumbuhan baru. MBTO mematok target penjualan bersih 2026 sebesar Rp501 miliar atau naik 24,8% dibanding tahun 2025, dengan laba bersih yang diharapkan mencapai Rp24,8 miliar.
Pencapaian target ini disokong oleh penjualan berbagai kategori produk, mulai dari makeup, skincare, hingga produk jamu. Perseroan juga mengandalkan kontribusi unit usaha manufaktur PT Cedefindo, Martha Tilaar Shop, serta jaringan ritel daring.
MBTO terus menajamkan strategi pada segmen masstige atau produk premium dengan harga terjangkau melalui merek seperti Biokos dan Sariayu Martha Tilaar. Perseroan juga menyasar pasar premium dengan Professional Artist Cosmetics dan Dewi Sri Spa.
"Semakin menyasar kelas menengah atas dan atas, margin per unit semakin baik. Di segmen bawah margin relatif tipis sehingga membutuhkan volume yang besar, sedangkan produk premium memberikan nilai yang lebih tinggi," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Menghadapi persaingan ketat, MBTO merangkul kompetitor sebagai mitra bisnis melalui unit manufaktur PT Cedefindo. "Kami tidak melihat pesaing sebagai musuh. Banyak merek juga memproduksi produknya di fasilitas Cedefindo sehingga kami memperoleh pendapatan baik dari penjualan produk sendiri maupun jasa manufaktur," sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, MBTO memperketatkan efisiensi untuk mengamankan margin. Penyesuaian harga barang akan dilakukan secara selektif dengan tetap menjaga daya saing produk.
Pada kuartal I/2026, MBTO mencatat pemulihan kinerja dengan penjualan neto Rp113,06 miliar, tumbuh 23,91% secara tahunan. Perseroan berhasil mencatatkan laba bersih Rp14,93 miliar, berbalik positif dari rugi bersih Rp967,43 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.