Prospek Emiten Emas di Paruh Kedua Tahun 2026 Tumbuh Moderat

Jumat, 03 Juli 2026 | 14:41:59 WIB
Ilustrasi: Perusahaan emiten emas di Indonesia menghadapi pertumbuhan moderat pada paruh kedua tahun 2026. (Foto: NET)

JAKARTA - Performa perusahaan berbasis emas di pasar modal Indonesia saat ini terpengaruh oleh tren penurunan harga emas sepanjang paruh pertama tahun 2026. Komoditas yang sempat mencatat kinerja cemerlang sepanjang 2025 kini berbalik arah dan berpotensi menekan laporan keuangan perusahaan terkait.

Berdasarkan data Trading Economics, harga emas dunia turun dari level US$4.446 per troy ounce di awal tahun menjadi US$4.031,4 per troy ounce pada sesi perdagangan kemarin. Dengan demikian, harga emas telah terpangkas sebesar 9,33 persen sepanjang tahun 2026.

Situasi ini berbeda dengan capaian tahun lalu, di mana sepanjang 2025 harga emas melonjak hingga 61,34 persen, dari US$2.685 menjadi US$4.332 pada akhir tahun. Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures, menjelaskan bahwa penurunan harga emas global pada paruh pertama 2026 didorong oleh penguatan dolar AS dan aksi ambil untung setelah kenaikan signifikan sebelumnya.

Para investor terpantau mengalihkan dana dari aset aman ke dolar AS yang terus menguat dalam beberapa bulan terakhir. Lukman Leong mengungkapkan, ”Saya melihat sementara ini terjadi aksi ambil untung besar-besaran karena kenaikannya spektakuler ya. Jadi biarpun dihitung harga sekarang pun masih double dibandingkan dua tahun lalu,” sebagaimana dilansir dari sumber berita pada hari Kamis (2/7/2026).

Selain faktor tersebut, tren kecerdasan buatan dianggap menjadi pemicu merosotnya nilai logam mulia baru-baru ini. Investor dilaporkan mengalihkan modal ke sektor yang menawarkan narasi pertumbuhan kuat.

Namun, harga emas dinilai masih memiliki ruang untuk menguat hingga akhir tahun 2026. Prediksi ini didukung oleh kebijakan bank sentral AS yang masih ketat serta tingginya ketidakpastian geopolitik yang melibatkan Iran dan AS.

Lukman Leong menambahkan, ”Saya melihatnya masih ada kemungkinan besar ke sekitar US$4.600—US$4.800. Jadi tetap di bawah US$5.000 untuk perkembangan saat ini. Kami bisa lihat kalau The Fed juga masih tetap hawkish, ekspektasi suku bunga malah terus naik,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Di sisi lain, meningkatnya ancaman inflasi global membuat pelaku pasar lebih selektif dalam menambah portofolio emas. Hal ini terjadi karena kenaikan harga emas sudah masif jika dibandingkan dengan periode dua tahun ke belakang.

Walau begitu, Lukman tetap optimistis bahwa bank sentral dunia akan terus melakukan pembelian emas fisik secara konsisten. Faktor inilah yang membuat permintaan fisik diproyeksikan tetap kuat ke depannya.

Lukman menegaskan, ”Kalau kami mengharapkan kenaikan spektakuler seperti sebelumnya, mungkin tidak akan terjadi. Tapi semuanya bisa terjadi, soalnya permintaan bank sentral masih akan tetap support, tetapi dari sana idealnya harga emas akan naik secara bertahap, tidak seperti dua tahun terakhir,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menyebutkan bahwa sepanjang paruh pertama 2026, perdagangan komoditas di Doo Financial mendominasi transaksi. Fluktuasi harga emas yang tinggi menjadi daya tarik bagi pelaku transaksi berjangka, dan Ariston memproyeksikan tren ini berlanjut ke paruh kedua 2026.

Ariston Tjendra menjelaskan, ”Saya rasa komoditas masih mendominasi, tidak akan bisa disaingin. Emasnya sendiri itu lebih dikenal di masyarakat dan dari pergerakan volatilitas harga karena di transaksi berjangka ini yang ditransaksikan itu naik turunnya harga. Karena volatilitas emas besar, jadi peluang mendapatkan profit juga lebih besar,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memproyeksikan laba bersih emiten emas akan tetap tumbuh solid tahun ini, meski kecepatannya tidak akan melampaui pertumbuhan fundamental tahun lalu. Meskipun harga emas terkoreksi cukup dalam, Nafan tetap optimis karena pelemahan rupiah membuat emas berfungsi sebagai pelindung nilai alami bagi masyarakat.

Nafan memaparkan, ”Jika nilai tukar rupiah terdepresiasi, emas akan bertindak sebagai natural hedge. Harga emas dunia terkoreksi, tapi pelemahan nilai tukar rupiah bisa otomatis mendongkrak average selling price [emiten],” sebagaimana dilansir dari sumber berita pada hari Kamis (2/7/2026).

Nafan juga melihat permintaan fisik emas tetap kuat dalam jangka panjang, senada dengan laporan World Gold Council yang mencatat tingginya minat bank sentral dan investor. Performa apik pada kuartal I/2026 memberikan bantalan bagi emiten jika harga emas kembali menyusut.

Nafan mengutarakan, ”Secara kumulatif tahun penuh 2026, laba bersih emiten emas diproyeksikan tetap tumbuh positif, tetapi dengan laju yang lebih moderat dibandingkan lonjakan tahun lalu,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Emiten emas dalam negeri juga menghadapi tantangan stabilitas produksi, kebijakan pemerintah, hingga potensi pembengkakan biaya energi. Emiten yang mampu menjaga stabilitas produksi seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), hingga PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) dinilai mampu mempertahankan pertumbuhan laba yang sehat.

Nafan menambahkan, ”Tantangan lainnya masih berkaitan dengan suku bunga tinggi. Takutnya kalau suku bunga tinggi, para investor cenderung memegang dolar AS, emas menjadi kurang menarik. Tapi secara jangka pendek,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai prospek emiten emas pada paruh kedua 2026 masih konstruktif karena harga jual masih berada jauh di atas biaya produksi. Koreksi harga saat ini dianggap sebagai normalisasi pasar, bukan pelemahan struktural.

Wafi memaparkan, "Pendorong pada semester dua adalah full ramp up Tambang Pani yang bakal mendorong volume, permintaan emas ritel domestik masih tinggi, dan potensi Fed rate cut dapat menstabilkan harga," sebagaimana dilansir dari sumber berita pada hari Kamis (2/7/2026).

Namun, Wafi memproyeksikan pencapaian laba emiten secara penuh pada 2026 akan berada di bawah realisasi 2025 karena basis pertumbuhan harga tahun lalu yang tinggi. Emiten dengan pertumbuhan volume tinggi akan lebih tahan banting dalam menutupi dampak penurunan harga jual rata-rata.

Wafi merekomendasikan saham MDKA seiring beroperasinya Tambang Pani dan diversifikasi usaha ke sektor nikel. Ia juga merekomendasikan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) karena komoditas emas menjadi pilar utama pendapatan yang didukung diversifikasi nikel.

Wafi menyimpulkan, "Tantangan di luar harga emas adalah rupiah yang lemah berisiko menaikkan cost operasional berbasis impor, potensi revisi royalti dan kewajiban downstream, dan operational execution risk untuk tambang fase ramp-up seperti Pani butuh konsistensi produksi," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Terkini