Harga Minyak Dunia Berakhir Menguat Jelang Libur Kemerdekaan Amerika

Jumat, 03 Juli 2026 | 14:41:58 WIB
Ilustrasi: Harga minyak dunia menguat jelang libur Hari Kemerdekaan Amerika Serikat. (Foto: NET)

HOUSTON – Nilai jual minyak dunia berakhir menguat pada sesi perdagangan Kamis (2/7/2026) yang didorong oleh aktivitas short covering menjelang libur panjang Hari Kemerdekaan Amerika Serikat.

Pelaku pasar saat ini mulai mengalihkan perhatian pada proyeksi ketersediaan pasokan global seiring dengan meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Nilai minyak mentah Brent bertambah 23 sen (0,32%) hingga menetap di posisi US$ 71,80 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) terkerek naik 11 sen (0,16%) menjadi US$ 68,69 per barel.

Meskipun berakhir di zona hijau, kedua kontrak tersebut sempat menyentuh level terendah sejak sebelum perselisihan antara AS-Israel dengan Iran meletus pada akhir Februari lalu.

Dalam akumulasi mingguan, Brent tercatat masih melemah 0,60%, sedangkan WTI mengalami penurunan 0,78%.

Mitra Again Capital, John Kilduff, menyatakan bahwa apresiasi harga ini cenderung didorong oleh aksi beli untuk menutup posisi jual.

"Kami melihat aksi short covering. Fokus pasar kini bergeser dari berapa banyak pasokan yang akan hilang menjadi seberapa besar pasokan yang akan masuk ke pasar," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Kondisi pasar juga dipengaruhi oleh proses negosiasi antara AS dan Iran dengan Qatar sebagai mediator.

Otoritas Qatar mengungkapkan bahwa kedua belah pihak mencatat kemajuan dalam diskusi menuju kesepakatan damai permanen guna mengakhiri konflik yang telah mengganggu jalur distribusi di Selat Hormuz.

Namun, tanda-tanda kesepakatan final belum terlihat dan perundingan berikutnya diproyeksikan baru akan berlangsung setelah upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei usai tanggal 9 Juli.

Chief Commodities Analyst SEB, Bjarne Schieldrop, berpendapat bahwa saat ini pasar menilai ketersediaan minyak global dalam posisi cukup aman.

"Minyak tetap mengalir melalui Selat Hormuz. Selain itu, pelepasan cadangan strategis masih berlangsung, sementara permintaan minyak dari China juga belum pulih sepenuhnya. Kondisi ini membuat harga masih berpotensi tertekan sebelum kembali pulih," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Data pelayaran menunjukkan setidaknya terdapat lima kapal tanker raksasa yang memuat sekitar 10 juta barel minyak dari Arab Saudi telah melewati Selat Hormuz.

Pada saat yang sama, Saudi Aramco turut memacu penjualan minyak mereka menuju Asia melalui mekanisme harga spot.

Di Amerika Serikat, EIA melaporkan bahwa stok minyak mentah lokal telah menyusut ke titik terendah sejak tahun 2018 pada pekan lalu akibat tingginya operasional kilang.

UBS memutuskan untuk menurunkan prediksi harga minyak Brent setelah melihat distribusi minyak yang melewati Selat Hormuz kembali meningkat.

Lembaga tersebut mengoreksi prediksi harga Brent untuk kuartal III sebesar US$ 25 menjadi US$ 80 per barel dan kuartal IV sebesar US$ 10 menjadi US$ 80 per barel, serta periode 2027 menjadi US$ 75 per barel.

Analis dari HSBC mengestimasi bahwa pasar akan sanggup menyerap limpahan pasokan minyak baru dari Timur Tengah sejalan dengan tuntasnya program pelepasan cadangan oleh IEA pada Juli ini.

Begitu surplus pasokan jangka pendek terurai, harga Brent berpeluang kembali merangkak ke level US$ 80 per barel atau lebih tinggi.

Di sisi lain, tensi geopolitik tetap membayangi pasar setelah militer Ukraina menggempur fasilitas kilang minyak milik Lukoil di Nizhny Novgorod, Rusia, yang berpotensi memengaruhi peta pasokan energi dunia.

Terkini