Yield Obligasi AS Naik, Harga Emas Spot Tertekan ke USD 4.015

Selasa, 30 Juni 2026 | 12:15:46 WIB
Ilustrasi: Yield obligasi AS naik menekan harga emas spot ke posisi USD 4.015 per troy ounce. (Gambar: NET)

JAKARTA – Nilai jual emas di pasar spot berakhir melemah pada sesi transaksi Senin (29/6/2026), selaras dengan lonjakan harga minyak serta menguatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury. Kenaikan kedua instrumen tersebut memicu para pelaku pasar untuk kembali berfokus pada potensi pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve (The Fed), alih-alih mendongkrak minat terhadap aset safe haven di tengah ketegangan antara AS dan Iran yang memanas.

Melansir Kitco, Selasa (30/6/2026), harga emas di pasar spot merosot 1,79% ke posisi US$4.015,60 per troy ounce. Pada waktu yang sama, harga perak spot ditransaksikan di kisaran US$58,180 per ounce, atau melemah 1,48% dari posisi penutupan pada sesi perdagangan sebelumnya.

Di pihak lain, bursa saham AS sukses berbalik menguat setelah kecemasan awal terkait konflik di Timur Tengah berangsur-angsur mereda. Indeks Nasdaq Composite melaju 2,1%, sedangkan Dow Jones ditutup melewati level 52.000 sekaligus mencetak rekor penutupan tertinggi baru.

Sentimen positif ini ditopang oleh ekspektasi bahwa proses negosiasi antara AS dan Iran akan bergulir kembali serta aktivitas pelayaran di Selat Hormuz tetap berjalan, walaupun belum pulih sepenuhnya. Kendati demikian, komoditas logam mulia tidak searah dengan kebangkitan pasar saham.

Emas dan perak ditransaksikan lebih sebagai aset yang peka terhadap proyeksi suku bunga, ketimbang berfungsi sebagai instrumen lindung nilai utama dalam meredam risiko geopolitik. Respons pasar pascapertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) masih menjadi elemen utama yang membatasi pergerakan harga.

Pada rapat tanggal 17 Juni, FOMC memutuskan untuk menahan suku bunga acuan pada kisaran 3,50% hingga 3,75% lewat keputusan mutlak dengan pemungutan suara 12-0. Namun begitu, proyeksi ekonomi terkini memperlihatkan bahwa angka median jalur suku bunga dana federal untuk tahun 2026 dinaikkan menjadi 3,8% dari prediksi bulan Maret yang sebesar 3,4%.

Di samping itu, perkiraan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) 2026 juga disesuaikan naik menjadi 3,6% dari asumsi terdahulu sebesar 2,7%. Aktivitas pasar pada hari Senin melanjutkan penyesuaian terhadap ekspektasi tersebut.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun merangkak naik ke posisi 4,377%, sedangkan yield obligasi tenor dua tahun bertahan di atas level 4,10%. Di saat yang bersamaan, meroketnya harga minyak mempertebal kekhawatiran atas tekanan inflasi melalui koridor kebijakan suku bunga.

Kondisi ini membuat daya tarik emas sebagai aset safe haven tetap terjaga, namun kalah dominan oleh sentimen arah kebijakan moneter The Fed. Kondisi di Selat Hormuz saat ini lebih pas dikategorikan sebagai hambatan pada kelancaran arus pelayaran, bukan sebuah penutupan rute secara total.

Volume lalu lintas kapal merosot hingga menyisakan 22 kali penyeberangan pada hari Minggu, menembus rekor level terendah sejak pihak AS dan Iran menyepakati komitmen awal untuk menyudahi pertikaian. Kelesuan aktivitas pelayaran ini dipicu oleh aksi gempuran terhadap kapal kargo pada hari Kamis serta insiden susulan yang melibatkan kapal tanker minyak pada hari Sabtu (27/6).

Pihak AS dan Iran pada hari Minggu bersepakat untuk menghentikan aksi saling serang sekaligus melanjutkan perundingan damai. Walau begitu, rute pelayaran strategis tersebut dinilai masih menyimpan tantangan tersendiri bagi para pemilik kapal, korporasi penyewa, maupun kru kapal.

Sementara itu, Kepala Riset Komoditas TD Securities Bart Melek mengingatkan bahwa harga emas masih berpeluang tergerus hingga di bawah US$3.900 per troy ounce sebelum menyentuh titik balik terendah dalam fase koreksi tren bearish pasar saat ini. Namun demikian, Melek berpandangan bahwa penurunan harga emas ini sebaliknya akan menjadi momentum akumulasi beli yang prospektif bagi investor.

Berdasarkan penilaiannya, tren bullish jangka panjang dari logam mulia ini masih jauh dari kata usai. Melek memaparkan bahwa ancaman terbesar bagi pergerakan harga emas dalam jangka pendek tetap bersumber dari fluktuasi harga minyak, yang diproyeksikan terus memicu tekanan inflasi.

“Dengan gangguan di Selat Hormuz yang menggerus persediaan ke level terendah dalam sejarah, risiko utamanya adalah pasar minyak mentah yang saat ini berada dalam kondisi oversold dapat mengalami rebound tajam,” kata Melek dalam risetnya, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Melek mengutarakan harga minyak Brent masih berpotensi melonjak menuju rentang US$90 hingga US$110 per barel. Situasi tersebut dinilai bakal memacu peningkatan ekspektasi inflasi dan memperkokoh kecenderungan kebijakan moneter untuk tetap ketat, sehingga berdampak pada naiknya biaya kepemilikan (carry cost) serta biaya peluang (opportunity cost) bagi para investor emas.

Terkini