JAKARTA – Nilai tukar mata uang rupiah diproyeksikan masih akan bergerak menguat terhadap dolar AS pada hari ini, Selasa (30/6/2026). Sebelumnya pada sesi transaksi Senin (29/6/2026), mata uang Garuda ditutup terapresiasi sebesar 0,36 persen menuju posisi Rp17.840 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS berakhir melemah 0,10 persen ke posisi 101,25. Pergerakan mata uang di kawasan Asia pada waktu yang sama terpantau ditutup bervariasi dengan yen Jepang melemah 0,05 persen dan ringgit Malaysia terapresiasi sebesar 0,51 persen.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memaparkan bahwa sentimen pasar bersumber dari eskalasi ketegangan antara AS dan Iran pada akhir pekan lalu. Sentimen tersebut memicu skeptisisme terkait kelanjutan komitmen damai kedua negara, kendati dialog di Qatar dijadwalkan akan tetap berlangsung pekan ini.
Membaiknya kondisi pasokan minyak memberikan tekanan harga karena arus lalu lintas perdagangan di Selat Hormuz mendekati volume sebelum konflik pecah. Namun, serangan yang terjadi sepanjang akhir pekan memicu kekhawatiran mendalam mengenai kerentanan komitmen damai temporer antara pihak AS dan Iran.
AS dan Iran dilaporkan saling melepaskan gempuran akibat silang pendapat terkait wewenang Teheran di Selat Hormuz. Hal tersebut sempat memicu hambatan arus pengiriman dan meningkatkan harga minyak pada perdagangan Senin.
Laju kenaikan harga minyak berhasil diredam oleh laporan Axios yang menyebutkan bahwa kedua negara mencapai kesepakatan untuk menghentikan pertikaian dan bersiap melakukan dialog baru. Sementara itu, pejabat The Fed melontarkan pandangan yang cenderung hawkish terkait kebijakan suku bunga.
Presiden Fed Minneapolis, Neel Kashkari, memproyeksikan satu kali penguatan suku bunga pada tahun 2026 dan menyatakan penaikan suku bunga diperlukan karena inflasi yang meluas. Senada dengan itu, Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee dan Presiden Fed New York John Williams menegaskan bahwa inflasi inti masih terlalu tinggi.
Dari faktor domestik, pelaku pasar menantikan rilis data neraca perdagangan Indonesia serta capaian tingkat inflasi untuk awal Juli. Data tersebut akan menjadi variabel krusial dalam menganalisis stabilitas ekonomi domestik serta arah tren pergerakan rupiah ke depan.
Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup menguat pada kisaran Rp17.800 hingga Rp17.860.