Harga Batu Bara Terkoreksi 0,43 Persen Menjadi 128,5 Dolar AS per Ton

Jumat, 26 Juni 2026 | 12:10:59 WIB
Ilustrasi: Harga batu bara global turun 0,43 persen menjadi US$128,5 per ton pada 15 Juni 2026. (Foto: NET)

JAKARTA – Nilai jual batu bara terpantau masih mengalami kejatuhan di tengah terjadinya tarik-menarik sentimen pasar di wilayah Asia. Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara pada sesi perdagangan Kamis (15/6/2026) ditutup pada level US$ 128,5 per ton atau melemah sebesar 0,43 persen.

Harga tersebut tercatat telah melorot sebesar 2,3 persen dalam kurun waktu dua hari belakangan. Angka penutupan kemarin menjadi yang terendah sejak tanggal 22 April 2026 atau telah berjalan lebih dari dua bulan.

Volume impor batu bara termal lewat jalur laut di kawasan Asia kembali merangkak naik untuk menutupi penurunan produksi dalam negeri maupun menjaga ketahanan energi. Impor batu bara termal di wilayah Asia diproyeksikan menembus 77,37 juta metrik ton pada Juni 2026, rekor tertinggi dalam enam bulan terakhir.

Angka tersebut melesat dari 68,39 juta ton pada Mei dan melonjak sekitar 22,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tren kenaikan ini dipicu oleh pergerakan Jepang dan Korea Selatan yang beralih antara batu bara dan gas alam cair (LNG) akibat lonjakan harga energi pascakonflik Iran.

Harga batu bara Newcastle sempat naik mencapai US$150,25 per ton pada pertengahan Juni sebelum bertengger di posisi US$134,09 per ton pada hari Rabu. Meski naik, batu bara dinilai masih lebih kompetitif dibandingkan dengan LNG sehingga mendongkrak konsumsi di Jepang dan Korea Selatan.

Jepang diproyeksikan mengimpor 7,82 juta ton batu bara pada Juni, melonjak 33 persen dibanding tahun lalu. Sementara volume impor Korea Selatan diestimasi mencapai 7,30 juta ton atau menanjak 41 persen dibanding catatan Juni 2025.

China sebagai importir terbesar dunia turut mendongkrak pembelian dengan estimasi impor jalur laut mencapai 27,65 juta ton pada Juni. Lonjakan ini disebabkan oleh dinamika domestik, di mana permintaan listrik naik, namun produksi batu bara dalam negeri justru mengalami kelesuan.

Produksi batu bara China merosot 1,7 persen secara tahunan menjadi 397,22 juta ton pada Mei akibat pengetatan inspeksi keselamatan tambang pasca insiden kecelakaan. Hal ini memicu kenaikan harga batu bara domestik China hingga mencapai rekor tertinggi sejak Oktober 2024.

Kondisi tersebut membuat batu bara impor dari Indonesia dan Australia menjadi lebih kompetitif bagi korporasi listrik di China. Berbeda dengan negara lainnya, India justru belum menaikkan volume impor karena tingginya harga batu bara.

India memilih untuk mengoptimalkan persediaan yang ada dan mempercepat transisi ke energi terbarukan. Produksi listrik dari energi terbarukan di India melompat 29,3 persen pada Mei dan menyumbangkan 17,9 persen dari total pembangkitan listrik nasional.

Terkini