JAKARTA – Investor perlu mewaspadai potensi dividen trap dari saham PT Blue Bird Tbk (BIRD). Hari ini, Jumat (26/6/2026), merupakan cum date saham BIRD dengan yield dividen yang mencapai hampir 10 persen, sementara harga sahamnya telah mengalami kenaikan signifikan.
Menjelang cum date, harga saham BIRD pada perdagangan Kamis (25/6/2026) ditutup di level Rp1.690 atau naik 1,50 persen. Dalam satu bulan terakhir, harga saham BIRD telah menguat sebesar 140 poin atau 9,03 persen.
Saham BIRD mencatatkan performa yang cukup baik di tengah tekanan pasar saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyusut 2,13 persen dalam sebulan terakhir. BIRD resmi menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp166 per saham berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 18 Juni 2026.
Nilai tersebut setara dengan 65,3 persen dari laba bersih entitas induk tahun buku 2025. Dengan harga terakhir, yield dividen saham BIRD mencapai 9,2 persen, atau tiga kali lipat dari suku bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Berdasarkan keputusan RUPST, dividen akan dibagikan kepada pemegang saham yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 30 Juni 2026. Sementara itu, pembayaran dividen tunai dijadwalkan akan dilakukan pada 10 Juli 2026.
Direktur Utama Blue Bird, Adrianto Djokosoetono, menyatakan bahwa pembagian dividen ini mencerminkan komitmen perseroan dalam memberikan nilai tambah kepada pemegang saham. "Fokus pada inovasi, pemanfaatan teknologi, serta perluasan kapasitas operasional terus menjadi pendorong pertumbuhan Perseroan dan memperkuat fondasi bisnis untuk jangka panjang," ujar Adrianto dalam Public Expose di Jakarta, Kamis (18/6/2026), sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Sepanjang tahun buku 2025, Blue Bird mencatatkan laba tahun berjalan sebesar Rp643 miliar atau tumbuh 9 persen. Pendapatan bersih perusahaan juga meningkat 13 persen secara tahunan menjadi Rp5,7 triliun.
Sisa laba bersih yang tidak dibagikan sebagai dividen akan dialokasikan sebagai laba ditahan untuk modal kerja serta pengembangan usaha. Komisaris Utama Blue Bird, Bayu Djokosoetono, menilai perseroan mampu menjaga kinerja yang sehat dan konsisten menjalankan strategi bisnis jangka panjang.
Ke depannya, Blue Bird berkomitmen untuk terus memperkuat layanan inti, mengembangkan segmen non-taksi, serta meningkatkan kontribusi kanal digital. Fokus perusahaan juga mencakup menjaga keseimbangan antara pertumbuhan usaha dan efisiensi operasional.