Dolar AS Menguat, Euro Melemah Tertekan Sentimen Suku Bunga Global

Kamis, 25 Juni 2026 | 12:08:37 WIB
Ilustrasi: Dolar AS menguat ke posisi tertinggi sejak pertengahan 2025, menekan nilai tukar euro.(Gambar: NET)

JAKARTA – Nilai tukar euro terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot ke posisi paling rendah dalam kurun satu tahun pada perdagangan Rabu (24/6/2026). Hal ini terjadi lantaran greenback melesat ke posisi paling tinggi sejak pertengahan 2025 yang dipicu oleh prediksi suku bunga agresif serta kembalinya minat pada aset aman akibat lesunya sektor teknologi dunia.

Lonjakan dolar AS yang agresif memberatkan posisi euro dan berimbas pada mata uang utama global lainnya, serta memberikan efek masif pada pasar valuta asing kawasan Eropa dan Asia meskipun tensi geopolitik di Timur Tengah sempat mendingin sejenak. Para pemodal obligasi secara agresif telah menyusun kembali posisi beli dolar AS karena inflasi yang tinggi serta kuatnya permintaan domestik.

Situasi tersebut melapangkan jalan bagi minimal dua kali peningkatan suku bunga Federal Reserve (The Fed) di tahun ini, dengan swap mengalkulasi probabilitas mendekati 40 persen untuk eksekusi kebijakan paling cepat pada Juli.

Pada saat yang sama, modal yang berpindah dari likuidasi senilai USD 1,3 triliun pada korporasi raksasa kecerdasan buatan (AI) serta teknologi dunia mencari perlindungan pada mata uang cadangan dunia, sehingga Indeks Dolar AS menguat 0,2 persen menuju 101,55.

Kendati peredaman diplomatik antara Israel dan Iran sukses menekan harga minyak mentah kembali ke bawah USD80 per barel, kondisi tersebut tidak memberi banyak pengaruh untuk melonggarkan dolar AS. Pemodal beralih dari kepanikan geopolitik langsung ke arah pertahanan makrostruktural.

Kesenjangan kebijakan transatlantik ini menyeret euro ke sesi penurunan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, memangkas premi yang sebelumnya diraih dari landasan hawkish Bank Sentral Eropa. Otoritas kebijakan zona euro saat ini berada dalam dilema karena harus berupaya mengendalikan inflasi di tengah indikator ekonomi yang lesu.

Poundsterling menjumpai titik jatuh teknis yang moderat usai otoritas kebijakan Bank of England, Alan Taylor, memberikan indikasi untuk mempertahankan suku bunga dalam kurun waktu yang lebih panjang. Aset Inggris tetap terhambat oleh lemahnya ekonomi dalam negeri serta kekosongan politik yang timbul akibat mundurnya Perdana Menteri Keir Starmer.

Dolar Australia ditransaksikan bergerak mendatar, dengan AUD/USD pada posisi 0,6905, bahkan usai data memperlihatkan inflasi inti melonjak menjadi 3,6 persen pada Mei yang memperkokoh dasar bagi Reserve Bank of Australia demi menjaga sikap hawkish.

Di Asia Tenggara, USD/THB melonjak 0,6 persen usai Bank of Thailand menahan suku bunga tetap tidak berubah dan menerapkan strategi hati-hati terhadap inflasi, sementara Rupiah terpantau masih berada dalam tekanan dengan USD/IDR menguat 0,6 persen.

Para pemodal kini memusatkan perhatian pada data ekonomi AS yang akan datang serta pernyataan The Fed demi mendapatkan kepastian mengenai arah reli dolar AS. Sementara itu, yuan China melemah setelah Bank Rakyat China menetapkan titik tengah harian yang lebih lemah untuk sesi keempat berturut-turut, mengisyaratkan toleransi yang kian besar terhadap fleksibilitas mata uang seiring keperkasaan dolar.

Yen Jepang bertengger di dekat posisi paling rendah dalam beberapa dekade, dengan USD/JPY menguat 0,1 persen menuju 161,70 dan tetap berada di zona yang sebelumnya merangsang intervensi resmi. Pasar sebagian besar tidak merespons ringkasan opini dari rapat Bank Sentral Jepang pada Juni, yang memperlihatkan beberapa otoritas kebijakan menyokong kenaikan suku bunga lanjutan usai kenaikan pekan lalu menjadi 1,0 persen.

Terkini