Kekhawatiran Suplai Mereda, Harga Minyak Brent dan WTI Merosot Tajam

Kamis, 25 Juni 2026 | 11:17:15 WIB
Ilustrasi: Harga minyak Brent dan WTI merosot tajam akibat berkurangnya kekhawatiran suplai dari Timur Tengah. (Gambar: NET)

HOUSTON – Nilai minyak internasional kembali ambles pada sesi transaksi Rabu (24/6/2026) waktu setempat.

Berkurangnya kecemasan mengenai hambatan suplai dari Timur Tengah memicu harga minyak Brent merosot ke posisi paling rendah semenjak sebelum berkobarnya perselisihan Iran.

Nilai minyak Brent ditutup merosot US$ 3,34 (4,3%) menuju US$ 73,74 per barel, sementara nilai minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS jatuh US$ 2,87 (3,9%) ke posisi US$ 70,34 per barel.

Brent sempat menyentuh US$ 73,12 per barel selama sesi perdagangan, yang merupakan posisi paling rendah semenjak 27 Februari 2026.

WTI sempat anjlok ke bawah US$ 70 per barel untuk pertama kalinya semenjak awal Maret akibat berkurangnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap hambatan lalu lintas energi melewati Selat Hormuz.

Menteri Energi AS Chris Wright menuturkan bahwa arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz saat ini mulai kembali mendekati situasi normal.

Kurang lebih 20 juta barel minyak mentah sukses melewati rute tersebut sepanjang 24 jam ke belakang karena adanya pengawalan militer terhadap armada kapal tanker.

Tiga kapal tanker yang mengangkut sekitar 50 juta barel minyak mentah juga mulai bertolak dari Selat Hormuz pada Rabu, dengan dua di antaranya berlayar menuju kawasan Asia.

Pasar terbebani setelah AS kembali memperbolehkan penjualan minyak Iran sebagai tindakan merangsang kesepakatan damai yang lebih permanen dengan Teheran.

Analis KCM Trade, Tim Waterer, menuturkan pelonggaran sanksi bagi Iran berpeluang mendongkrak tingkat produksi serta ekspor minyak negara itu dalam rentang hitungan pekan.

“Jika sanksi benar-benar dilonggarkan, Iran memiliki cadangan minyak yang cukup besar di kapal tanker sehingga ekspor dapat meningkat dengan cepat,” ujar Waterer sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Analis ING menganggap bertambahnya aktivitas kapal di Selat Hormuz sebagai sinyal baik bagi pasar energi, walau kuantitas pelayaran masih di bawah posisi sebelum perselisihan pecah.

Beban nilai minyak kian berat karena kargo minyak fisik mulai ditransaksikan dengan potongan harga imbas melimpahnya suplai dari Timur Tengah.

Tatanan pasar Brent berganti dengan nilai kontrak pengiriman bulan kedua yang lebih tinggi daripada kontrak terdekat, mengisyaratkan suplai jangka pendek yang kian longgar.

Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran telah menyetujui peninjauan nuklir tanpa batasan waktu, namun otoritas Iran menyanggah telah mengeluarkan kesepakatan tersebut.

Data Energy Information Administration (EIA) memperlihatkan total pasokan minyak AS merosot 15,1 juta barel menuju 743,3 juta barel pada pekan yang berakhir 19 Juni.

Nominal tersebut menjadi yang paling rendah semenjak tahun 1984.

JP Morgan menurunkan estimasi harga minyak Brent untuk paruh kedua tahun 2026 karena prediksi tingkat permintaan yang kian lemah serta penurunan pasokan internasional yang tidak sebesar ekspektasi.

Bank tersebut kini memproyeksikan nilai Brent rata-rata berada pada kisaran US$ 86 per barel di kuartal III dan US$ 80 per barel di kuartal IV tahun ini.

Terkini