Tekanan Rupiah Dorong Lonjakan Simpanan Valas di Sektor Perbankan

Kamis, 25 Juni 2026 | 10:13:43 WIB
Ilustrasi: Simpanan valuta asing di perbankan melonjak 17,8% pada Mei 2026 seiring tekanan rupiah. (Gambar: NET)

JAKARTA – Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) perbankan tumbuh pesat pada Mei 2026 yang ditopang oleh lonjakan simpanan valuta asing (valas) di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Bank Indonesia mencatat DPK perbankan mencapai Rp 9.698,7 triliun pada Mei 2026 atau tumbuh 10,8% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Pertumbuhan DPK tersebut ditopang oleh simpanan valas yang melonjak 17,8% yoy pada Mei 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan April 2026 yang hanya 8,6% yoy.

Sementara itu, simpanan dalam rupiah tumbuh relatif stabil sebesar 9,6% yoy.

Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), Myrdal Gunarto, mengungkapkan lonjakan DPK valas didorong oleh sentimen flight to quality dan kebutuhan lindung nilai (natural hedging) di tengah ketidakpastian pergerakan nilai tukar.

"Depresiasi rupiah yang cukup persisten menekan ekspektasi pasar sehingga memicu pergeseran perilaku. Masyarakat maupun entitas bisnis cenderung menahan kepemilikan valas atau mengonversi rupiah ke dolar AS untuk mengamankan kewajiban impor dan pembayaran utang luar negeri," ujar Myrdal sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Myrdal menjelaskan bahwa dari sisi korporasi, pertumbuhan simpanan valas ditopang oleh eksportir yang menikmati kenaikan harga komoditas dan penguatan dolar AS.

"Kalau dari sisi korporasi, eksportir saat ini menikmati dampak lonjakan harga komoditas maupun nilai dolar yang semakin tinggi. Jadi wajar kalau tabungan maupun deposito valas mengalami kenaikan," kata Myrdal sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Sementara dari sisi individu, Myrdal melihat adanya peningkatan minat terhadap produk-produk perbankan berbasis valas yang menawarkan imbal hasil menarik.

"Pemilik dana memanfaatkan berbagai produk perbankan berbasis valas seiring tren penguatan dolar dalam beberapa bulan terakhir," ujar Myrdal sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Data Bank Indonesia menunjukkan tabungan valas tumbuh 29,9% yoy pada Mei 2026, sedangkan deposito valas meningkat 27,9% yoy.

Myrdal menilai pertumbuhan DPK valas hingga saat ini masih didominasi oleh segmen korporasi yang mencapai 18,6% yoy per Mei 2026.

"Secara nominal, korporasi menjadi penopang utama pertumbuhan DPK valas, khususnya dari eksportir yang menempatkan devisa hasil ekspor pada instrumen simpanan berjangka valas," kata Myrdal sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Ia memperkirakan laju pertumbuhan DPK valas berpotensi melambat pada paruh kedua tahun ini apabila tekanan terhadap dolar AS mulai mereda.

"Kalau dolar mulai melemah dan The Fed lebih akomodatif, ada kemungkinan porsi simpanan valas akan kembali menurun karena kebutuhan akumulasi dolar berkurang," jelas Myrdal sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Ia memperkirakan pertumbuhan DPK valas industri perbankan akan berada di kisaran 10,38% hingga akhir 2026.

Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan, mengakui terdapat kenaikan DPK valas di bank yang dipimpinnya, namun perseroan tetap fokus pada penghimpunan dana rupiah.

"DPK valas memang ada kenaikan sedikit lebih tinggi. Namun, kami tetap fokus pada rupiah karena sejalan dengan pipeline kredit. DPK valas kami mayoritas berasal dari nasabah eksportir dan importir," ujar Lani sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Hingga Mei 2026, DPK CIMB Niaga tercatat sebesar Rp 326,24 triliun atau tumbuh 8,21% yoy.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) juga mencatat DPK valas tumbuh 9,82% yoy hingga Mei 2026, sementara DPK rupiah tumbuh 8,38% yoy.

"DPK valas BRI tumbuh sekitar 9,82%. Namun, porsi DPK valas kami memang tidak terlalu besar karena BRI fokus pada segmen mikro sehingga konsentrasi utama tetap pada DPK rupiah," ujar Head of Liquidity and Funding Management Group BRI, Teguh Sulistyono sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Menurut Teguh, pelemahan rupiah sejauh ini belum berdampak signifikan terhadap perilaku nasabah ritel BRI dalam menempatkan dana pada instrumen valas.

"Sampai sekarang belum ada tanda-tanda pelemahan rupiah yang berdampak terhadap pertumbuhan DPK valas. Transaksi tukar valas ritel juga tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan," kata Teguh sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Ia menegaskan pertumbuhan DPK valas BRI lebih banyak dipengaruhi oleh kebutuhan intermediasi perbankan dibandingkan dengan faktor spekulatif.

"Basis penyaluran kredit kami mayoritas dalam rupiah sehingga kebutuhan penghimpunan dana juga mengikuti struktur kredit tersebut," pungkas Teguh sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Terkini