Harga LNG Global Terus Naik, Pengamat Ingatkan Dampak bagi Industri

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:53:08 WIB
Ilustrasi: Harga LNG global melonjak tajam, berdampak pada industri di Indonesia. (Foto: NET)

JAKARTA – Melonjaknya nilai energi global akibat eskalasi geopolitik mendatangkan persoalan berat bagi banyak negara, tidak terkecuali Indonesia. Komoditas yang terkena efek besar adalah gas alam cair (liquefied natural gas/LNG), khususnya yang ditransaksikan di pasar spot.

Pengamat migas Widhyawan Prawiraatmadja mengungkapkan, perubahan nilai jual energi non-subsidi merupakan konsekuensi yang tidak terelakkan bagi pelaku industri di tengah fluktuasi global.

“Harga perolehan LNG tergantung apakah berasal dari kontrak jangka panjang atau pembelian spot. Harga spot bisa lebih murah atau lebih mahal, seperti kondisi saat ini. Jika mengikuti mekanisme pasar, kenaikan dan penurunan harga merupakan hal yang wajar dan dihadapi oleh seluruh pengguna LNG,” ujar Widhyawan sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Nilai LNG di pasar spot dipastikan naik seiring dengan melambungnya indeks acuan Asia Pasifik, yaitu Japan Korea Marker (JKM). Catatan pasar memperlihatkan indeks JKM sepanjang tahun 2026 telah meroket sekitar 111%.

“Kenaikannya memang cukup tinggi,” tegas mantan Gubernur Indonesia untuk OPEC periode 2015–2016 tersebut sebagaimana dilansir dari sumber berita. Peningkatan harga LNG dunia ini juga memicu kenaikan komoditas minyak mentah, termasuk Indonesian Crude Price (ICP) yang pada April 2026 meroket sekitar 99% dari proyeksi awal tahun.

Di luar pasar spot, nilai LNG dapat disepakati melalui kontrak jangka panjang antara produsen dan konsumen. Widhyawan menyebut mayoritas kesepakatan menggunakan rumus yang berkiblat pada nilai minyak.

“Pembeli yang memiliki kesepakatan kontrak biasanya menggunakan basis harga minyak atau oil-indexed pricing,” jelasnya sebagaimana dilansir dari sumber berita. Penentuan harga ini menggunakan slope, yakni persentase khusus dari nilai minyak yang bervariasi tergantung pada kondisi pasar saat kontrak dinegosiasikan.

“Besaran slope bervariasi tergantung kondisi pasar saat kontrak dinegosiasikan. Ketika pasokan melimpah, slope cenderung lebih rendah, begitu juga sebaliknya,” ujarnya sebagaimana dilansir dari sumber berita. Lonjakan nilai LNG ini juga dialami negara lain di Asia, seperti Filipina, Vietnam, dan Singapura, dengan harga yang bervariasi.

Sebagai perbandingan, tarif LNG di Indonesia diprediksi berada pada kisaran US$ 21–25 per MMBTU setelah penyesuaian dampak kenaikan harga energi dunia. Sepanjang semester pertama 2026, tarif dalam negeri terpantau masih dipertahankan pada posisi rendah meski pasar global telah melonjak drastis.

Kepala Ekonom BCA, David Sumual, memberikan pandangan bahwa lonjakan nilai energi dunia melahirkan tantangan pelik bagi perekonomian. “Situasi ini menimbulkan twin dilemma.

Industri penyedia energi menghadapi lonjakan biaya operasional dan tekanan regulasi, sementara industri pengguna energi harus menanggung kenaikan biaya produksi yang tidak selalu dapat diteruskan kepada konsumen,” ujarnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.

David menekankan bahwa melambungnya nilai energi non-subsidi adalah gejala global yang sukar ditolak, namun kebijakan yang condong pada satu pihak berisiko melahirkan polemik.

“Membela salah satu sektor, baik industri pengguna maupun penyedia energi, dengan mengorbankan pihak lainnya bukanlah solusi yang berkelanjutan. Justru hal itu dapat menimbulkan masalah baru di kemudian hari,” pungkasnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Terkini