Harga Emas Dunia Merosot Akibat Penguatan Dolar Amerika Serikat

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:53:08 WIB
Ilustrasi: Harga emas dunia turun tajam seiring penguatan dolar AS ke level tertinggi sejak lebih dari setahun. (Gambar: NET)

NEW YORK – Nilai emas global merosot pada sesi perdagangan Selasa (23/6/2026), menyusul keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh titik tertinggi dalam kurun waktu lebih dari satu tahun. Kondisi ini mengikis daya pikat logam mulia di tengah melonjaknya prediksi pasar mengenai kenaikan suku bunga acuan The Fed.

Harga emas di pasar spot ditutup jatuh sebesar 1,94% menuju angka US$ 4.110,11 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus ditutup anjlok 1,75% ke level US$ 4.129 per ons troi.

Apresiasi nilai dolar AS menjadi batu sandungan utama bagi pergerakan komoditas emas. Mata uang Negeri Paman Sam tersebut melonjak ke posisi puncaknya dalam setahun lebih, sehingga mengakibatkan harga emas menjadi lebih mahal bagi para pelaku pasar yang bertransaksi menggunakan mata uang di luar dolar.

Senior Market Strategist StoneX, Bob Haberkorn, mengungkapkan bahwa atensi pelaku pasar saat ini lebih tertuju pada arah kebijakan moneter di AS ketimbang situasi geopolitik di Timur Tengah. “Untuk saat ini, emas dan perak tidak terlalu memperhatikan situasi di Timur Tengah. Investor lebih fokus pada pesan yang disampaikan The Fed pekan lalu,” ujarnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Para pelaku pasar semakin meyakini bahwa The Fed bakal mengerek kembali tingkat suku bunga menyusul sinyal hawkish dari Ketua The Fed, Kevin Warsh. Hal ini memicu investor untuk memperbesar spekulasi atas kenaikan suku bunga pada beberapa bulan ke depan.

Merujuk pada data CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga untuk bulan Desember kini berada di angka sekitar 86%, melonjak tajam dari posisi 61% sebelum rapat The Fed pekan lalu. Meskipun difungsikan sebagai sarana lindung nilai terhadap inflasi, performa emas cenderung tertekan dalam situasi suku bunga tinggi karena komoditas ini tidak memberikan imbal hasil.

Di sisi lain, situasi geopolitik global sempat memberikan sedikit bantalan bagi pasar. AS memberikan kelonggaran sanksi terhadap Iran selama 60 hari pasca-dialog awal dalam upaya damai yang baru bergulir, meskipun ketegangan bersenjata di Lebanon masih berlangsung.

Wakil Presiden AS, JD Vance, mengutarakan bahwa pembicaraan bersama para pejabat Iran di Swiss telah meletakkan landasan yang kokoh demi tercapainya kesepakatan damai yang langgeng. Laju distribusi kapal tanker melewati Selat Hormuz juga diinfokan mulai merangkak naik setelah sempat terhambat akibat eskalasi wilayah.

Sementara itu, nilai minyak mentah jenis Brent merosot lebih dari 1%, yang menggambarkan berkurangnya rasa cemas pelaku pasar terhadap hambatan pasokan energi global. Saat ini, pasar tengah mengantisipasi publikasi data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Kamis (25/6/2026) yang menjadi tolok ukur inflasi utama The Fed.

Angka tersebut diperkirakan menjadi kompas penting bagi proyeksi arah kebijakan suku bunga mendatang. Kemerosotan tidak hanya melanda emas, tetapi juga berimbas pada komoditas logam mulia lainnya.

Nilai perak spot jatuh sebesar 5,4% menuju harga US$ 61,59 per ons. Selain itu, platinum melorot 1,68% ke posisi US$ 1.654,9 per ons, sedangkan paladium terpangkas 2,76% ke level US$ 1.234,5 per ons.

Terkini