Nilai Minyak Global Turun 1 Persen Imbas Kemajuan Dialog Damai AS-Iran

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:53:08 WIB
Ilustrasi: Nilai minyak global turun sekitar 1% seiring kemajuan dialog damai AS-Iran. (Gambar: NET)

JAKARTA – Nilai minyak global ditutup merosot sekitar 1% pada sesi perdagangan Selasa (23/6/2026) di New York, seiring meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap jalur distribusi minyak lewat Selat Hormuz setelah adanya indikasi kemajuan dalam dialog damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Laporan Reuters menyebutkan, nilai minyak mentah jenis Brent merosot US$ 0,82 (1,1%) ke posisi US$ 77,08 per barel. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menyusut US$ 0,65 (0,9%) ke level US$ 73,21 per barel.

Kedua standar harga internasional tersebut bahkan sempat menyentuh titik terendah dalam kurun waktu hampir empat bulan terakhir selama sesi perdagangan intraday. Pelemahan ini melanjutkan tren penurunan sebesar 3% pada hari sebelumnya, menyusul langkah AS yang memberikan kelonggaran sanksi selama 60 hari kepada Iran serta meredanya gejolak di Lebanon.

Perhatian pasar saat ini tertuju pada aktivitas pelayaran di kawasan Selat Hormuz, jalur laut vital yang dilewati hampir seperlima dari total pasokan minyak dan gas global. Oman dan Iran dilaporkan telah sepakat untuk meneruskan dialog mengenai tata kelola navigasi di area strategis tersebut.

Kendati demikian, otoritas Amerika Serikat menegaskan bahwa Iran tidak akan diizinkan menarik biaya atau 'tarif tol' atas pemanfaatan koridor pelayaran itu dalam perjanjian final karena dianggap menyalahi hukum internasional. Indikator pemulihan jalur niaga mulai tampak, di mana berdasarkan data pelacak kapal, sejumlah tanker termasuk tiga kapal supertanker yang sempat tertahan telah kembali berlayar melewati Selat Hormuz.

Armada kapal pengangkut LNG milik Qatar yang kosong juga dilaporkan mulai masuk kembali ke perairan tersebut. Pemulihan situasi secara total dinilai tidak akan terjadi dalam waktu singkat karena berbagai persoalan keamanan seperti risiko ranjau, kerusakan fasilitas pelabuhan, hingga kepadatan lalu lintas pelayaran masih menjadi kendala berat.

“Pemilik kapal membutuhkan jaminan bahwa ancaman ranjau benar-benar sudah hilang. Kerusakan pelabuhan, puing di laut, dan kemacetan juga menjadi tantangan tambahan,” ujar analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Dari aspek suplai, Irak mendongkrak volume produksi ladang minyak selatan menjadi kisaran 2,1 juta barel per hari, berbarengan dengan meningkatnya laju ekspor di area Teluk. Sebaliknya, volume ekspor minyak Arab Saudi justru merosot ke posisi paling rendah dalam beberapa bulan terakhir.

Catatan industri mengindikasikan bahwa cadangan minyak mentah dan bahan bakar di Amerika Serikat diproyeksikan kembali berkurang pada minggu lalu. Penurunan ini berlangsung saat cadangan strategis AS berada di level paling rendah sejak 1983.

Ekonom SEB Research, Ole Hvalbye, menyatakan bahwa tekanan dari sektor spekulatif menjadi penahan harga dalam periode pendek. Namun, kondisi minimnya cadangan strategis AS diprediksi memiliki potensi menjadi penopang bagi pergerakan harga minyak dalam beberapa pekan mendatang.

Terkini