JAKARTA – Nilai minyak dunia berakhir melandai di atas 3 persen pada sesi perdagangan Senin (22/6/2026). Penyusutan tajam itu berlangsung sejalan dengan berkurangnya kecemasan terhadap hambatan ketersediaan barang setelah pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengenai perkembangan positif dalam dialog bersama Iran, serta kabar bahwa akses Selat Hormuz tetap beroperasi.
Kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent ditutup merosot 3,31 persen ke posisi USD 77,90 per barel. Pada sesi awal transaksi, nilai minyak sempat merangkak naik hingga menyentuh USD 82,30 per barel setelah Presiden AS Donald Trump melayangkan ancaman konflik militer, sementara pihak Teheran mengumumkan pemblokiran kembali akses ke Selat Hormuz.
Nilai minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS yang tuntas pada perdagangan Senin berakhir tergelincir 2,32 persen menuju level USD 74,82 per barel. Di sisi lain, kontrak yang bergerak lebih aktif untuk tenggat pengiriman Agustus menyusut USD 1,99 menjadi USD 73,86 per barel.
Jajaran delegasi tingkat tinggi AS dan Iran telah merampungkan sesi putaran pertama dialog mereka di Swiss pada Senin, merujuk laporan pihak penengah. Pembahasan tersebut bergulir sejak Minggu berlandaskan nota kesepahaman yang disepakati pekan lalu demi memperpanjang masa gencatan senjata selama minimal 60 hari mendatang.
Pihak AS pada Senin meluncurkan restu bagi aktivitas perdagangan minyak Iran. Izin umum yang dipublikasikan oleh Departemen Keuangan AS tersebut memfasilitasi niaga minyak mentah, komoditas petrokimia, beserta produk turunan minyak bumi dari Iran sampai dengan tanggal 21 Agustus.
Sementara itu, pihak Iran tidak membicarakan proyek nuklir serta tidak menyetujui adanya beban kewajiban baru dalam dialog bersama AS di Swiss pada Minggu, ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, kepada badan pemberitaan resmi IRNA sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Stok minyak mentah dalam simpanan darurat otoritas AS menyusut 9,05 juta barel pada pekan lalu, yang menjadi rekor penurunan terdalam ketiga sepanjang sejarah. Pemangkasan cadangan tersebut merupakan bagian dari mufakat AS demi mengalirkan 172 juta barel dari depo penyimpanan guna menekan harga komoditas bahan bakar.
Pengamat dari UBS, Giovanni Staunovo, mengutarakan bahwa Iran sudah mengalirkan kembali ekspor minyak setelah aktivitas distribusi sempat mandek akibat pemblokiran sektor laut oleh AS pada awal bulan ini sebagaimana dilansir dari sumber berita. ANZ memproyeksikan bahwa volume pasokan minyak Iran dapat mengalir kembali ke pasar global sekitar 2 juta hingga 3 juta barel per hari dalam jangka waktu empat pekan pertama.
Walau begitu, jalan pemulihan ketersediaan pasokan masih membentur rintangan. ANZ memprediksi tambahan sekitar 2 juta hingga 3,5 juta barel per hari berpeluang pulih pada kuartal III-2026, bergantung pada tingkat stabilitas keadaan. Pada waktu yang sama, sekitar 1 juta hingga 2 juta barel per hari volume pasokan minyak rawan hilang secara permanen ataupun semipermanen.