Emas Dunia Menguji Titik Jenuh Jual, Simak Analisis Tren Mendatang

Senin, 22 Juni 2026 | 11:25:09 WIB
Ilustrasi: Emas dunia menunjukkan potensi rebound setelah bertahan di zona sokongan penting. (Gambar: NET)

JAKARTA – Nilai tukar emas global tampak mengawali momentum kebangkitan usai bertahan pada zona sokongan penting di dekat titik terendah tahun ini. Senior Technical Strategist Forex.com, Michael Boutros, berpandangan bahwa situasi tersebut memicu kans terciptanya titik jenuh jual yang berpotensi memicu fase kenaikan anyar.

Boutros memaparkan bahwa nilai emas saat ini tengah bertahan di atas zona sokongan penting yang berada dekat dengan titik terendah tahunannya. Menurut dia, situasi ini membuka kans terciptanya fase ‘exhaustion low’ atau titik jenuh penurunan, yang kerap menjadi indikator awal pembalikan tren nilai jual.

"Risiko terbentuknya titik terendah yang lebih signifikan semakin meningkat setelah penjual gagal mempertahankan harga di bawah area support utama," tulis Boutros dalam analisis terbarunya sebagaimana dilansir dari sumber berita. Ia juga menambahkan bahwa zona 4.074 hingga 4.112 dolar AS per ons troi menjadi area sokongan utama yang menentukan tren jangka pendek hingga menengah.

Selama posisinya kokoh di atas zona tersebut, kans terjadinya rebound dinilai masih ada. Sebaliknya, bila nilai emas ditutup mingguan di bawah level 4.074 dolar AS per ons troi, aksi jual berpotensi berlanjut menuju zona sokongan berikutnya di kisaran 3.887 dolar AS per ons troi.

“Di sisi lain, area resistance terdekat berada pada level 4.319 dolar AS per ons troi. Namun, zona yang paling krusial berada pada kisaran 4.493-4.540 dolar AS per ons troi,” jelas Boutros sebagaimana dilansir dari sumber berita. Penembusan di atas zona tersebut bakal menjadi indikator kuat bahwa tren pelemahan mulai usai dan nilai emas berpeluang memasuki fase penguatan masif.

Pelaku pasar saat ini menantikan data inflasi Personal Consumption Expenditures (Core PCE) edisi Mei yang dipublikasikan Kamis (25/6/2026) sebagai acuan kebijakan The Fed. Saat ini, pasar mengalkulasikan probabilitas sekitar 70 persen terhadap peningkatan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September mendatang.

Penguatan dolar AS menjadi penghambat utama bagi emas karena menjadikannya lebih mahal bagi pemodal yang bertransaksi dengan mata uang lain. Di sisi lain, nilai minyak global merosot lebih dari 38 persen pasca konsensus AS dan Iran yang meredakan kekhawatiran pasokan.

"Posisi jual perlu dilakukan dengan hati-hati pada level saat ini karena risiko terbentuknya titik balik harga semakin meningkat," ujar Boutros sebagaimana dilansir dari sumber berita. Selama area sokongan utama masih sanggup bertahan, peluang pemulihan nilai emas tetap terbuka.

Terkini