Harga Energi Menurun, Pergerakan Harga CPO Kini Cenderung Fluktuatif

Senin, 22 Juni 2026 | 11:25:09 WIB
Ilustrasi: Penurunan harga minyak mentah ke US$ 80 per barel memengaruhi pergerakan harga CPO.(Gambar: NET)

JAKARTA – Nilai jual crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives diprediksi akan mengalami fluktuasi dalam rentang yang sempit selama sepekan ke depan. Kondisi ini terjadi seiring dengan mulai kondusifnya situasi geopolitik di wilayah Asia Barat.

Berdasarkan data Bernama, sejumlah praktisi pasar memprediksi CPO akan diperdagangkan pada kisaran 4.200–4.300 ringgit Malaysia per ton, meski terdapat peluang apresiasi yang minim.

Senior palm oil trader Interband Group of Companies, Jim Teh, menyatakan bahwa pasar CPO sebelumnya sempat mendapatkan dorongan dari konflik geopolitik yang meningkatkan spekulasi di pasar komoditas, termasuk energi. “CPO menjadi salah satu aset yang diuntungkan dari reli berbasis konflik di pasar komoditas,” ujarnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Saat ini, nilai jual minyak mentah telah mengalami penurunan hingga ke kisaran US$ 80 per barel. Hal tersebut berimplikasi pada berkurangnya sokongan energi terhadap kenaikan nilai jual CPO.

Di sisi lain, proprietary trader Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, berpendapat bahwa nilai jual CPO masih memiliki peluang untuk berfluktuasi dengan kecenderungan positif yang minim. Hal ini dipengaruhi oleh harga energi yang masih tinggi serta tingkat serapan yang dinilai kokoh.

Ia memproyeksikan nilai jual CPO akan berfluktuasi dalam rentang 4.550 - 4.750 Ringgit Malaysia per ton untuk kurun waktu ke depan.

Merujuk pada data transaksi mingguan dari Jumat ke Jumat, instrumen berjangka CPO untuk periode Juli 2026 melonjak 159 ringgit Malaysia menjadi 4.594 ringgit Malaysia per ton. Untuk periode Agustus 2026, harga mengalami apresiasi sebesar 147 Ringgit Malaysia menjadi 4.622 Ringgit Malaysia per ton.

Periode September 2026 terkerek naik 135 Ringgit Malaysia menjadi 4.646 Ringgit Malaysia per ton, sementara periode Oktober 2026 terangkat sebesar 124 Ringgit Malaysia menjadi 4.668 Ringgit Malaysia per ton.

Untuk periode November 2026, terjadi lonjakan sebesar 118 Ringgit Malaysia menjadi 4.689 Ringgit Malaysia per ton. Adapun periode Desember 2026 tertahan pada posisi 4.710 ringgit Malaysia per ton.

Terkini