JAKARTA – Bank Indonesia (BI) merekam pertumbuhan yang krusial dalam pemanfaatan sistem Local Currency Transaction (LCT) atau penyelesaian transaksi dagang lewat mata uang lokal antara Indonesia dan China.
Dalam empat bulan pertama hingga April 2026, nilai transaksi bilateral menggunakan rupiah dan renminbi (yuan) telah mencapai USD13 miliar atau setara Rp233,75 triliun dengan kurs Rp17.981 per USD.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, memaparkan bahwa perolehan tersebut memperlihatkan akselerasi yang sangat cepat. Sebagai pembanding, realisasi pemanfaatan mata uang lokal di sepanjang tahun lalu secara keseluruhan hanya bertengger di angka USD 18 miliar.
“Alhamdulillah, puji Tuhan, local currency transaction antara Indonesia dan China sangat besar. Tahun lalu secara keseluruhan USD18 miliar, tahun ini 4 bulan saja telah mencapai USD13 miliar,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Menurut Perry, pengaplikasian mata uang lokal pada sektor perdagangan serta investasi memberikan keuntungan besar bagi pelaku bisnis, terutama dalam mereduksi ketergantungan atas dolar Amerika Serikat.
Pola diversifikasi transaksi internasional ini akan konsisten diperkuat demi menyokong stabilitas moneter dalam negeri. Lewat mekanisme skema LCT, transaksi komersial dapat dirampungkan secara langsung tanpa perlu mengonversi ke dolar Amerika Serikat sebagai mata uang perantara.
“Dan ini sejalan dengan garis kebijakan China untuk internasionalisasi renminbi. Local currency transaction,” sebagaimana dilansir dari sumber berita. Demi mendukung tren ini, BI agresif melebarkan interkoneksi sistem pembayaran lintas negara untuk mempermudah penyelesaian transaksi dari sektor hulu hingga hilir.
Selain dengan China, jalinan kemitraan serupa juga gencar dijalankan bersama Jepang, Korea Selatan, serta beberapa wilayah di kawasan ASEAN. Bank sentral menegaskan bahwa reliabilitas infrastruktur sistem pembayaran merupakan fondasi krusial dalam menopang lalu lintas keuangan antarnegara.
Perluasan jaringan konektivitas digarap secara intensif, mulai dari penerapan QRIS untuk transaksi ritel hingga maksimalisasi sistem Real Time Gross Settlement (RTGS) untuk pemindahan dana skala besar.
Perry turut mengapresiasi capaian PT Bank Mandiri (Persero) Tbk bersama tiga perbankan asal China yang terhubung secara langsung melalui Cross-Border Interbank Payment System (CIPS).
“Jadi kerja sama sistem pembayaran menjadi sangat-sangat penting dan ini salah satu kemajuan bahwa penyelesaian transaksi antara Indonesia dengan China tidak hanya sudah local currency, tapi juga penyelesaiannya melalui infrastruktur sistem pembayaran yang end-to-end dari depan sampai ke belakang,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Tren positif ini dinilai memicu dampak impresif bagi agenda pendalaman pasar uang serta pasar valuta asing domestik.
Saat ini, likuiditas transaksi langsung rupiah-renminbi di pasar dalam negeri telah berkembang pesat, baik untuk keperluan transaksi tunai, spot, maupun instrumen lindung nilai seperti forward dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Seluruh transaksi tersebut dapat diakses melalui jaringan bank domestik atau lembaga keuangan yang memiliki penunjukan resmi dari Bank Sentral China sebagai Appointed Cross Currency Dealer (ACCD).
Jalinan pasar rupiah-renminbi saat ini telah terhubung secara terintegrasi dengan daratan China hingga ke Hong Kong.
“Jadi transaksi rupiah, transaksi ekonomi, perdagangan dan didukung oleh kerja sama lokal currency dimanfaat di dalam negeri rupiah, Tiongkok dan melalui instrumen dan kerja sama lokal currency,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.