Rupiah Offshore Menguat ke Rp17.795 Usai BI Naikkan Suku Bunga Acuan

Jumat, 19 Juni 2026 | 13:25:15 WIB
Ilustrasi: Rupiah offshore menguat ke Rp17.795 per dolar AS setelah BI menaikkan suku bunga acuan. (Gambar: NET)

JAKARTA – Nilai kontrak rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) memperlihatkan indikasi yang lebih positif pada awal sesi perdagangan Jumat (19/6/2026). Kurs rupiah offshore mencatatkan penguatan sebesar 0,25 persen menuju level Rp17.795 per dolar AS pada pukul 06:19 WIB.

Apresiasi ini melanjutkan tren penguatan yang berlangsung beberapa hari terakhir. Para pelaku pasar merespons positif kebijakan moneter ketat serta intervensi stabilisasi yang dijalankan bank sentral.

Kebijakan agresif Bank Indonesia yang kembali mendongkrak suku bunga acuan sebesar 25 basis poin hingga 5,75 persen menjadi stimulan utama. Pengetatan moneter yang dieksekusi BI sejak Mei 2026 kini mencapai total 100 basis poin, menjadikannya salah satu langkah paling berani di Asia tahun ini.

Kebijakan pengetatan ini berhasil melebarkan selisih suku bunga terhadap Federal Funds Rate menjadi sekitar 200 basis poin. Kondisi tersebut meningkatkan daya pikat aset rupiah di tengah persaingan instrumen finansial global.

Bank Indonesia secara konsisten menunjukkan komitmen memelihara stabilitas nilai tukar melalui intervensi yang proporsional. Di sisi lain, tekanan harga energi global mulai melandai seiring meredanya kekhawatiran pasokan minyak pascakonflik Iran.

Harga minyak yang kembali berada di bawah US$80 per barel turut memangkas risiko inflasi impor serta memulihkan neraca perdagangan. Namun, faktor eksternal seperti sinyal hawkish dari The Fed tetap menjadi penentu arah rupiah dalam jangka pendek.

Sembilan dari 19 pejabat The Fed memproyeksikan masih ada potensi satu kali kenaikan suku bunga tambahan tahun ini. Ekspektasi tersebut menjaga indeks dolar AS tetap kokoh di atas level 100,84, yang membuat aliran modal global bergerak lebih selektif terhadap aset negara berkembang.

Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, Lionel Priyadi, mengemukakan bahwa BI kemungkinan perlu meneruskan pengetatan moneter secara gradual. "Masih perlu kenaikan lebih lanjut menjadi minimal 225 bps agar rupiah bisa stabil hingga awal tahun depan," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Samuel Sekuritas memproyeksikan siklus kenaikan suku bunga BI belum berakhir karena penguatan rupiah yang masih terbatas. Sejak awal tahun, rupiah telah melemah 5,75 persen, meski masih lebih baik dibandingkan won Korea Selatan yang terdepresiasi 6,47 persen.

Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI), Faisal Rachman, menilai kebijakan BI ke depan akan sangat bergantung pada eskalasi risiko global dan domestik. Risiko tersebut mencakup ketegangan di Timur Tengah, prospek suku bunga AS, sentimen MSCI, serta kalkulasi peringkat Indonesia oleh S&P.

Apabila tekanan eksternal mereda pada paruh kedua 2026, para ekonom di Bank Permata memproyeksikan BI Rate akan menetap di level 5,75 persen hingga akhir tahun. “Dalam skenario dasar kami, rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.800-Rp18.000 per dolar AS pada akhir 2026, sementara yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun diproyeksikan berada pada rentang 7,2-7,4% hingga penghujung tahun,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Terkini