JAKARTA – Nilai minyak mentah jenis Brent merangkak naik pada perdagangan Kamis (18/6/2026) usai Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance melayangkan peringatan kepada Israel agar tidak meneruskan gempuran terhadap kelompok Hizbullah sokongan Iran di Lebanon. Sikap tersebut melahirkan keraguan di kalangan pelaku pasar atas kelangsungan pakta gencatan senjata yang dirancang antara Amerika Serikat dan Iran.
“Pernyataan wakil presiden mengenai Israel mungkin kembali membuat situasi menjadi tegang. Saya pikir gangguan sekecil apa pun akan langsung tercermin di pasar,” sebagaimana dilansir dari sumber berita. Nilai kontrak berjangka untuk minyak Brent berakhir menguat 0,38 persen ke posisi USD 79,85 per barel.
Di sisi lain, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS justru merosot 0,25 persen ke angka USD 76,60 per barel. Sebelum adanya tanggapan dari Vance, nilai Brent sempat menyentuh posisi paling rendah semenjak 27 Februari, sementara WTI sempat terjerembap ke level terendah semenjak 4 Maret.
Fokus utama para pelaku pasar minyak kini terarah pada dinamika di Selat Hormuz, jalur maritim yang dilewati kurang lebih 20 persen dari total pasokan minyak dunia. “Pemulihan penuh aliran minyak melalui selat tersebut sudah kembali diperhitungkan dalam harga pasar. Apa pun yang kurang dari itu akan menjadi masalah,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Draf nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran mengatur masa perundingan 60 hari, di mana pihak Iran bakal memperbolehkan sirkulasi bebas melintasi Selat Hormuz. Pakta tersebut menargetkan normalisasi lalu lintas kapal menuju kapasitas optimal dalam kurun waktu 30 hari.
Perjanjian tersebut juga mengikat sekutu dari kedua belah pihak di wilayah Timur Tengah, termasuk Lebanon, tempat Israel menggelar operasi militer terhadap Hizbullah. Kesepakatan awal ini masih menangguhkan pembahasan untuk sejumlah topik rumit, seperti program nuklir milik Iran.
Amerika Serikat beserta para mitranya diwajibkan merancang skema pendanaan berkisar USD 300 miliar guna menopang pemulihan sektor ekonomi Iran. Banyak analis memproyeksikan proses pemulihan arus minyak yang melewati Selat Hormuz bakal bergulir secara bertahap.
Para pelaku industri mengingatkan bahwa nilai minyak tidak langsung anjlok drastis karena tingkat permintaan yang mulai merangkak naik serta stok minyak global yang mesti dipenuhi kembali. Goldman Sachs memprediksi aktivitas ekspor minyak dari wilayah Teluk akan kembali normal ke level sebelum konflik pada akhir Juli, sementara produksi minyak mentah diproyeksikan pulih pada Oktober mendatang.
Goldman Sachs memperkirakan normalisasi ekspor dapat dicapai lewat peningkatan pasokan melalui Selat Hormuz sebesar 13 juta barel per hari, menuju kisaran 70 persen dari level sebelum konflik. Sementara itu, BNP Paribas belum memproyeksikan harga minyak kembali ke level sebelum konflik.
BNP Paribas menilai angka USD75 per barel menjadi batas bawah yang kokoh dalam jangka pendek akibat kendala pasokan serta meningkatnya tingkat permintaan. Sebelum perselisihan bergulir, nilai minyak Brent ditransaksikan pada rentang USD60 sampai USD70 per barel dalam dua bulan pertama tahun ini.