Emas Jadi Penopang Utama, Kinerja PT Aneka Tambang Tbk Diprediksi Tetap Kuat

Kamis, 18 Juni 2026 | 13:44:37 WIB
Ilustrasi: Kontribusi sektor emas mencapai 81 persen dari total pendapatan ANTM pada kuartal I-2026. (Foto: NET)

JAKARTA – Kinerja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada kuartal III-2026 diproyeksikan akan tetap berada dalam tren yang kokoh dan menarik. Hal ini didorong oleh penerapan strategi diversifikasi usaha serta posisi emas sebagai aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian global.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, berpandangan bahwa lini bisnis emas menjadi pilar utama penopang performa perseroan di tengah gejolak pasar. "Emas masih menjadi motor utama ANTM dan tetap dipandang sebagai aset safe haven ketika terjadi ketidakpastian global. Penjualan emas secara wholesale (grosir) juga diperkirakan tetap kuat dan terjaga," ujar Nafan, Rabu (17/6/2026) sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Pada kuartal I-2026, ANTM mencatatkan pendapatan dari kontrak pelanggan senilai Rp 29,32 triliun, yang mencerminkan kenaikan 12,12 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Laba bersih perusahaan pada periode yang sama melonjak 61,9 persen YoY menjadi Rp 3,4 triliun dari sebelumnya Rp 2,1 triliun pada kuartal I-2025.

Sektor emas memberikan kontribusi sebesar 81 persen terhadap total pendapatan ANTM pada kuartal I-2026 dengan nilai Rp 23,89 triliun. Volume penjualan emas tercatat menyentuh angka 8.464 kilogram atau setara dengan 272.124 ons troi pada periode tersebut.

Kontribusi sektor nikel juga diprediksi akan terus mendukung performa perseroan seiring dengan kepastian kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang stabil. Kondisi tersebut memberikan kepastian operasional dalam mempertahankan volume produksi.

"Adanya persetujuan kuota RKAB nikel yang stabil dapat memberikan dampak positif terhadap kepastian operasional dan pada akhirnya menopang profitabilitas di kuartal ini," kata Nafan sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Kendati demikian, sejumlah tantangan membayangi kinerja ANTM pada kuartal III-2026, terutama fluktuasi harga komoditas global untuk emas dan nikel. Melambatnya tingkat permintaan dari Tiongkok juga menjadi risiko yang perlu diperhatikan oleh para pemodal.

Tingginya ketergantungan ANTM terhadap margin emas tetap menjadi faktor sensitif terhadap dinamika pasar global. Risiko regulasi domestik terkait perizinan dan kuota pertambangan nikel juga masih menjadi perhatian.

"Ketidakpastian regulasi domestik, termasuk terkait RKAB nikel, dapat membuat investor cenderung bersikap wait and see," ujar Nafan sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Sentimen global seperti kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) juga turut memengaruhi pergerakan harga komoditas. Kebijakan moneter Amerika Serikat yang lebih longgar berpotensi menekan nilai tukar dolar AS sekaligus memicu volatilitas harga komoditas dunia.

Perkembangan industri kendaraan listrik diproyeksikan tetap memberikan dampak positif bagi permintaan nikel ANTM dalam jangka menengah. Selain itu, penyerapan bijih nikel oleh smelter domestik dinilai tetap berjalan efektif dalam menjaga stabilitas permintaan dalam negeri.

Terkini