Wells Fargo Proyeksikan Harga Emas Tembus 6.000 Dolar AS pada 2027

Kamis, 18 Juni 2026 | 13:32:07 WIB
Ilustrasi: Wells Fargo memproyeksikan harga emas mencapai US$ 6.000 per ons troi pada 2027. (Gambar: NET)

JAKARTA – Prospek pergerakan harga emas dinilai masih gemilang walaupun sempat mengalami koreksi mendalam dalam beberapa bulan terakhir. Wells Fargo memproyeksikan harga logam mulia tersebut berpeluang menembus posisi US$ 6.000 per ons troi pada tahun 2027.

Proyeksi ini didukung oleh laju inflasi yang tetap tinggi, defisit fiskal yang semakin membengkak, serta ketidakstabilan geopolitik dunia. Dalam laporan prospek pertengahan tahun, Wells Fargo menaikkan target harga emas untuk akhir 2026 ke kisaran US$ 5.300–5.500 per ons troi.

Nilai emas diestimasi akan meningkat ke rentang US$ 5.800–6.000 per ons troi pada akhir tahun 2027. Kepala Strategi Ekuitas Global dan Aset Riil Wells Fargo, Sameer Samana, mengungkapkan bahwa reli penguatan emas saat ini ditopang oleh faktor struktural, bukan sekadar siklus jangka pendek.

“Emas tetap menjadi salah satu ide investasi dengan keyakinan tertinggi yang kami miliki,” ujar Samana sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Meskipun Wells Fargo memberikan peringatan bahwa harga emas masih berpotensi menghadapi tekanan jangka pendek dan merosot ke bawah level US$ 4.000 per ons troi, peluang kenaikan jangka panjang dianggap dominan. Melonjaknya ketidakpastian global memicu banyak bank sentral untuk mencari instrumen alternatif selain obligasi pemerintah Amerika Serikat dan uang kas.

“Kami meyakini emas menjadi instrumen diversifikasi tambahan yang penting. Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, bank sentral terus mencari tempat menyimpan cadangan devisa selain US Treasury dan uang tunai,” katanya sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Saat ini, harga emas spot berada pada kisaran US$ 4.357 per ons troi, setelah naik sekitar 0,6 persen pada perdagangan teranyar. Chief Investment Officer Wells Fargo, Darrell Cronk, berpendapat bahwa fokus ekonomi global pada 2026 akan didominasi oleh aspek geopolitik, perebutan sumber daya strategis, dan pergeseran rantai pasok global.

Situasi inflasi yang rendah seperti masa sebelum pandemi tidak akan terulang dalam waktu dekat karena tekanan dari tarif perdagangan, kenaikan biaya energi, dan besarnya pengeluaran pemerintah. Selain itu, Wells Fargo menilai pasar saat ini masih salah membaca arah suku bunga terkait dampak pembengkakan defisit fiskal.

“Saya pikir pasar sudah cukup lama salah membaca arah suku bunga,” kata Cronk sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Momentum investasi emas saat ini dinilai sangat memikat karena risiko penurunan dianggap lebih minim dibandingkan dengan potensi kenaikannya. “Untuk membuat emas tidak menarik, negara-negara di dunia harus mampu mengendalikan defisit anggaran dan menjaga stabilitas harga secara konsisten. Kenyataannya, pembuat kebijakan sering memilih jalan yang lebih mudah,” ujar Samana sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Selain emas, Wells Fargo juga menaruh optimisme pada logam industri seperti tembaga. Permintaan logam tersebut diproyeksikan akan terus meningkat seiring proyek pembangunan pusat data AI, tren elektrifikasi, dan pemenuhan infrastruktur energi dunia.

Terkini