Menanti Hasil Review MSCI, IHSG Hari Ini Diprediksi Bergerak Volatil

Kamis, 18 Juni 2026 | 12:02:19 WIB
Ilustrasi: IHSG diprediksi bergerak volatil menanti hasil review MSCI pada perdagangan Kamis (18/6/2026). (Gambar: NET)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki peluang untuk bergerak fluktuatif pada sesi perdagangan Kamis (18/6/2026). Pergerakan ini dipengaruhi oleh sikap pelaku pasar yang menantikan hasil evaluasi pasar saham Indonesia oleh MSCI yang diproyeksikan menjadi penentu sentimen jangka pendek.

Pada perdagangan Rabu (17/6/2026), IHSG ditutup melemah 0,55 persen ke level 6.220,74. Indeks sepanjang sesi tersebut bergerak di kisaran 6.179 hingga 6.377 dengan rincian 391 saham melemah, 288 saham menguat, dan 137 saham stagnan.

Tekanan utama indeks datang dari saham berkapitalisasi besar seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) yang merosot 5 persen ke Rp1.995 dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang menyusut 0,22 persen ke Rp4.490. Selain itu, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) terkoreksi 4,91 persen ke Rp775.

Tekanan juga bersumber dari PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang jatuh 12 persen ke Rp3.740 dan PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) terpangkas 1,59 persen ke Rp3.720. Saham PT Astra International Tbk. (ASII) pun turut melemah 1,84 persen ke level Rp4.800.

Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas berpandangan bahwa pelemahan IHSG dipicu oleh sikap defensif investor yang menantikan agenda krusial pekan ini. Pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve dan Bank Indonesia, serta hasil tinjauan dari MSCI dan FTSE Russell.

"Sentimen penurunan indeks tampaknya datang dari sikap pelaku pasar yang menantikan sejumlah agenda pekan ini, antara lain arah kebijakan moneter dari The Fed dan Bank Indonesia terkait suku bunga acuan," tulis Pilarmas dalam risetnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Perhatian pemodal juga tertuju pada perilisan Global Market Accessibility Review oleh MSCI yang dijadwalkan meluncur pada 18 Juni 2026 waktu Eropa atau dini hari 19 Juni 2026 waktu Indonesia. Investment Analyst Lead Stockbit Group, Edi Chandren, menyoroti dua poin utama, yakni kejelasan pembekuan indeks serta klasifikasi status pasar saham Indonesia yang saat ini berada di kelompok emerging market.

Skenario paling menguntungkan bagi pasar adalah jika MSCI mencabut pembekuan indeks atau memberikan sinyal kuat ke arah perbaikan. Situasi ini dinilai dapat mempertebal optimisme bahwa Indonesia mampu mempertahankan status emerging market.

Skenario positif lainnya adalah jika pembekuan tetap berlanjut, namun MSCI memberikan penilaian apresiatif terhadap perbaikan aksesibilitas dan transparansi data kepemilikan saham dalam negeri.

"Penggerak market pada skenario ini adalah tone tersebut, bukan headline 'pembekuan dipertahankan'.' Status emerging market kemungkinan tetap dipertahankan pada 23 Juni 2026 dan pasar berpotensi merespons secara positif, ujar Edi sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Di sisi lain, pasar berpeluang memberikan respons negatif jika MSCI memperpanjang periode peninjauan tanpa sinyal positif terkait langkah reformasi Indonesia. Sementara itu, risiko penurunan posisi Indonesia ke daftar pantauan frontier market dinilai memiliki peluang yang relatif kecil.

Terkini