JAKARTA – Saham-saham China yang tercatat di Hong Kong kini menghadapi prospek yang suram akibat gelombang investasi global yang beralih ke rantai pasok kecerdasan buatan (AI). Tren ini membuat investor cenderung mengabaikan perusahaan internet dan konsumen yang selama ini mendominasi indeks offshore China.
Para investor semakin mengalihkan dananya ke produsen chip di daratan China serta pasar Asia Utara lainnya karena dianggap paling diuntungkan oleh lonjakan permintaan AI. Sementara itu, pertumbuhan laba yang lemah dan likuiditas yang ketat menambah tekanan pada indeks offshore yang masih rentan terhadap lemahnya permintaan konsumen.
Indeks saham China yang tercatat di Hong Kong telah turun hampir 8 persen sepanjang tahun ini, menjadikannya salah satu yang berkinerja terburuk di antara lebih dari 90 indeks saham global yang dipantau. Selain itu, MSCI China Index saat ini mendekati wilayah bear market setelah merosot 18 persen dari puncaknya pada Oktober lalu.
"Indeks-indeks ini mengukur sisi ekonomi yang salah," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Ia menilai mayoritas konstituennya merupakan saham ekonomi lama yang minim eksposur terhadap AI sehingga kurang dilirik investor.
Berbeda dengan indeks di Taiwan dan Korea Selatan yang didominasi oleh semikonduktor, Hang Seng China Enterprises Index justru masih berat di sektor keuangan dan konsumen. Sektor internet yang dulu menjadi motor penggerak juga mulai kehilangan momentum akibat besarnya investasi di bidang AI serta ketatnya persaingan domestik.
Perusahaan besar seperti Alibaba Group Holding dan Tencent Holdings melaporkan pendapatan kuartal Maret yang berada di bawah perkiraan analis. Selain itu, proyeksi laba untuk anggota HSCEI juga dipangkas hampir 3 persen dibandingkan setahun lalu.
"Kekhawatiran bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi lebih lama akibat inflasi, kekecewaan laba dari sejumlah raksasa e-commerce karena persaingan yang makin ketat, serta larangan Beijing terhadap bisnis pialang lintas batas ilegal telah menekan sentimen investor," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Dukungan dari investor domestik juga memudar dengan adanya arus keluar dana bulanan pertama sejak Juni 2023 pada bulan Mei lalu.
Meski demikian, beberapa investor melihat potensi peluang pemulihan pada saham China offshore karena valuasinya yang lebih murah dibandingkan indeks Taiwan maupun Jepang. Manajer portofolio di Fidelity International, Dale Nicholls, menyatakan bahwa segmen properti dan konsumen kini mulai menunjukkan nilai yang menarik dengan rasio risiko dan imbal hasil yang membaik.
Namun, kinerja saham China offshore diprediksi masih akan tertekan dalam jangka pendek karena kekhawatiran terhadap regulasi dan pemulihan ekonomi yang rapuh. Goldman Sachs bahkan telah menurunkan rekomendasi saham H-share karena adanya peluang investasi yang dianggap lebih menarik di pasar lain.
"Tidak ada kelompok saham yang akan memperoleh manfaat besar dari reli teknologi dan AI," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Kondisi tersebut dinilai tidak memberikan prospek yang cerah bagi kinerja HSCEI di masa depan.