JAKARTA – Emiten logistik Grup Triputra, PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA), berencana melakukan ekspansi bisnis ke sektor teknologi informasi. Manajemen ASSA akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 17 Juni 2026 untuk menambah empat kegiatan usaha baru berbasis digital.
Keempat bidang usaha tersebut meliputi pemrograman komputer, penerbitan perangkat lunak, konsultasi dan perancangan Internet of Things (IoT), serta jasa sistem komunikasi data. Penambahan kegiatan usaha ini dilakukan guna mendukung pengembangan Transportation Management System (TMS) Integrated Solution.
"Perseroan merencanakan pengembangan bisnis Transportation Management System (TMS) Integrated Solution, yaitu suatu solusi berbasis teknologi yang dirancang untuk mengintegrasikan proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan penyelesaian administrasi transportasi dalam satu sistem terpadu," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Manajemen ASSA menilai industri logistik nasional sedang bertransformasi seiring pertumbuhan e-commerce dan tingginya tuntutan transparansi operasional. Tantangan saat ini bukan lagi sekadar ketersediaan armada, melainkan kemampuan mengelola data operasional secara terintegrasi.
Selama ini, proses logistik seperti perencanaan rute hingga pelaporan kinerja masih dilakukan secara terpisah dengan otomatisasi terbatas yang memicu inefisiensi. Melalui TMS, ASSA ingin menghadirkan platform yang mengintegrasikan seluruh alur logistik mulai dari perencanaan hingga administrasi.
ASSA juga akan menyediakan layanan business process outsourcing (BPO) serta fitur control tower sebagai pusat kendali operasional real-time. Visibilitas operasional ini akan diperkuat melalui integrasi teknologi IoT untuk memantau lokasi kendaraan, kondisi suhu cold chain, hingga telematika kendaraan.
Sistem TMS ini nantinya tidak hanya digunakan untuk kebutuhan internal ASSA, tetapi juga akan dipasarkan kepada perusahaan eksternal dari berbagai sektor industri. Melalui ekspansi ini, ASSA berharap dapat meningkatkan efisiensi serta menciptakan sumber pendapatan berulang dengan potensi pertumbuhan jangka panjang.
Berdasarkan studi kelayakan dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) RSR, proyek bisnis TMS ini dinilai layak dijalankan. Proyek tersebut diperkirakan menghasilkan net present value sebesar Rp12,62 miliar dengan tingkat pengembalian investasi atau internal rate of return mencapai 41,93 persen.