Indeks Saham EM Asia Merosot Tajam, IHSG dan Rupiah Lanjutkan Penguatan

Kamis, 11 Juni 2026 | 12:35:40 WIB
Ilustrasi Rupiah menguat tajam ke level Rp17.875 per dolar AS setelah kebijakan suku bunga Bank Indonesia. (Gambar: NET)

JAKARTA – Indeks saham acuan dan nilai tukar mata uang negara-negara emerging market Asia bergerak bervariasi hingga menjelang akhir sesi perdagangan Rabu (10/6/2026).

Pasar saham Asia terus bergejolak mengikuti perkembangan situasi di Timur Tengah, di mana gencatan senjata yang rapuh berulang kali terganggu oleh kembali memanasnya aksi militer. Pelaku pasar kini menantikan data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis hari ini sebagai ujian besar berikutnya bagi arah pasar global.

Laman Reuters melaporkan, indeks MSCI Emerging Markets Asia anjlok 2,8 persen, terutama akibat kejatuhan pasar saham Korea Selatan dan kejatuhan lebih dari 3 persen pada indeks saham Taiwan. Saham-saham di Korea Selatan anjlok akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu penghentian sementara perdagangan.

Sementara itu, nilai tukar rupiah menguat dan IHSG memperpanjang reli, sehari setelah kenaikan suku bunga Bank Indonesia di luar jadwal reguler yang mengejutkan pasar. Rupiah menguat tajam ke level Rp17.875 per dolar AS pada awal perdagangan, tetap berada di sisi yang lebih kuat dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Sementara itu, hingga lewat pukul 15:00 WIB, IHSG masih melaju 3,2 persen, melanjutkan reli kencang 7,6 persen yang terjadi pada Selasa kemarin. Saham-saham bank besar Indonesia seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) melejit antara 3 persen dan 10 persen, memperpanjang tren kenaikan sebelumnya.

Kemarin, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin untuk menahan pelemahan rupiah yang telah turun lebih dari 7 persen sepanjang tahun ini, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di dunia.

BI juga mengumumkan sejumlah langkah lain guna mendorong masuknya dana asing setelah investor asing mencatat arus keluar sekitar USD3,08 miliar dari pasar saham Indonesia sepanjang tahun ini.

Meski demikian, para analis menilai aset-aset Indonesia masih menghadapi tantangan. Sentimen investor tetap dibayangi oleh pelebaran defisit fiskal akibat meningkatnya tagihan impor bahan bakar, perubahan kebijakan ekspor komoditas, peninjauan tingkat kelayakan investasi (investability review) oleh MSCI yang akan datang, serta kekhawatiran mengenai independensi bank sentral.

Analis Goldman Sachs berpendapat, jika tekanan terhadap aset Indonesia dan arus keluar dana portofolio terus berlanjut, kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan pada pekan depan tidak dapat dikesampingkan. Apalagi, penguatan rupiah sejauh ini masih kurang dari 1 persen dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap tinggi.

Sementara itu, indeks acuan KOSPI Korea Selatan terperosok 4,5 persen, dengan saham Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing turun sekitar 6 persen dan 7 persen.

Penurunan tajam tersebut memicu aktivasi mekanisme sidecar — yaitu penghentian sementara perdagangan untuk meredam tekanan jual — yang terjadi untuk kedua kalinya dalam pekan ini. Di pasar valuta asing, won Korea Selatan menguat ke level 1.527,7 per dolar AS.

Won telah menguat sekitar 2,3 persen sepanjang pekan ini setelah otoritas meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas perdagangan spekulatif.

Di Taiwan, indeks saham utama TAIEX ambles sekitar 3 persen. Produsen chip kontrak terbesar di dunia, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company, melemah sekitar 2 persen. Sementara itu, indeks STI Singapura merosot lebih dari 1 persen.

Harga saham bank-bank besar seperti DBS Group, OCBC Bank, dan United Overseas Bank melorot antara 1 persen dan 3 persen. Pasar saham Thailand turun 0,6 persen, sedangkan saham-saham di Filipina bergerak sedikit lebih rendah.

Terkini