JAKARTA – Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Kamis (11/6/2026) seiring berlanjutnya aksi jual saham teknologi global setelah inflasi Amerika Serikat (AS) meningkat lebih tinggi dari perkiraan.
Di saat yang sama, ketegangan geopolitik kembali memanas setelah AS melancarkan serangan baru ke Iran yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang turun 0,9 persen. Pelemahan dipimpin oleh indeks KOSPI Korea Selatan yang anjlok 3 persen. Kontrak berjangka indeks S&P 500 juga melemah 0,3 persen, mengindikasikan sentimen pasar yang masih berhati-hati terhadap aset berisiko.
Militer AS pada Rabu (10/6) malam melancarkan serangan baru terhadap sejumlah target di Iran, hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump mengancam akan melakukan serangan lanjutan apabila kesepakatan damai tidak tercapai.
Sebagai respons, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia. Situasi tersebut mendorong harga minyak Brent naik 2 persen menjadi US$ 94,93 per barel pada awal perdagangan Asia.
Analis menilai, saham-saham teknologi Asia yang sebelumnya mencatat reli kuat dalam dua bulan terakhir berpotensi melanjutkan koreksi karena investor mulai mempertanyakan keberlanjutan pertumbuhan laba yang selama ini menopang kenaikan harga saham.
Strategis Kuantitatif Asia Bernstein, Rupal Agarwal, mengatakan bahwa valuasi saham teknologi di Korea Selatan, Taiwan, dan kawasan Asia secara umum sudah berada pada level yang cukup tinggi.
"Harapan pasar terhadap pertumbuhan laba sudah sangat optimistis. Dengan valuasi yang mahal, kondisi ini membuat saham-saham tersebut rentan terhadap koreksi lebih lanjut," tulis Agarwal dalam catatannya kepada klien, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia menambahkan bahwa meningkatnya kembali konflik geopolitik berpotensi mempercepat aksi pelepasan saham-saham yang sebelumnya mengalami kenaikan signifikan.
Pada perdagangan Rabu (10/6), indeks S&P 500 ditutup turun 1,6 persen, sementara Nasdaq Composite melemah 2 persen setelah data menunjukkan inflasi AS meningkat pada Mei 2026 ke level tertinggi sejak April 2023.
Kenaikan inflasi tersebut memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Di pasar valuta asing, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia bertahan di level 100,03.
Permintaan terhadap aset safe haven telah mendorong dolar AS menguat ke level tertinggi sejak AS dan Iran mulai melakukan negosiasi gencatan senjata pada awal April lalu.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed Oktober 2026 meningkat menjadi 51,6 persen. Sementara itu, harga emas spot turun 0,3 persen menjadi US$ 4.059,59 per ons troi.